Dark Comedy: Menertawakan Ironi Berbalut Kontroversi

Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Sebuah slogan Warkop DKI yang masih terngiang di telinga hingga sekarang.

Dulu slogan itu terbentuk dari kegelisahan Warkop DKI dengan situasi sukarnya membuat orang tertawa. Terutama jika menyisipkan kritik dalam komedi karena takut mendapat intimitasi dari pihak-pihak tertentu. Apalagi Warkop saat itu besar dalam pemerintahan Orde Baru. Orde Baru mengatur semuanya, tak terkecuali komedi.

Dalam lawakannya Warkop DKI mengajak kita untuk tertawa kepada suatu hal yang membuat kita berpikir lagi untuk apa kita tertawa. Itulah dark comedy kita diajak untuk menertawakan ironi yang mungkin juga kita alami di dalamnya. Belakangan istilah dark comedy kembali diperbincangkan terutama setelah video pamitnya Tretan Muslim dan Coki Pardede dari Majelis Lucu Indonesia dikarenakan kecaman yang tak henti dari beberapa oknum yang tak terima dengan guyonan mereka yang dianggap menistakan agama mereka.

Begitulah dark comedy tak semua orang bisa langsung paham menangkap di mana titik lucunya. Dark comedy sendiri sering hadir dalam film, novel, dan kartun, sebut saja kartun terkenal macam The Simpons, Family Guy, South Park. Seiring perkembangan dark comedy juga hadir dalam bentuk Meme dan komik strip.

Dark Comedy Lahir dari Novelis

Dark comedy hadir dengan bahan komedi yang masih dianggap tabu terutama pada hal yang dianggap serius atau menyakitkan untuk dibahas. Komedinya sering menggunakan isu-isu seperti kematian, pembunuhan, bunuh diri, pemerkosaan, peperangan dll. Walau demikian dark comedy tak bermaksud secara eksplisit untuk menyinggung perasaan orang lain. Menurut Oxford pada 2016 dark comedy hadir untuk mengekspresikan absurditas, ketidakpekaan, paradoks dan kekejaman dunia modern.

Penyampaian dark comedy menggunakan pendekatan satir memasukan ironi dengan premis-premis yang kontroversi. Kontroversi sendiri seperti jadi hal yang tak bisa dilepaskan dari dark comedy dari awal ia diperkenalkan.

André Breton adalah orang dibalik terciptanya istilah dark comedy. Seorang teori surealis cerdas asal Prancis yang kala itu pada tahun 1935 menafsirkan novel Jonathan Swift yang menurutnya dalam beberapa bagian novel Swift tersebut diidentifikasikan sebagai subgenre komedi dan satir. Di mana tawa justru hadir dalam balutan sinisme dan skeptisme.

André Breton

Kemudian Breton memasukan istilah itu ke dalam bukunya Anthology of Black Humor (Anthologie de l’humour noir). Dalam buku itu Breton memuji betapa cerdasnya Jonathan Swift sebagai pencetus dari dark comedy. Dark comedy hadir dalam beberapa karya Jonathan seperti Directions to Servants (1731), A Meditation Upon a Broom-Stick (1710).

Setelahnya penulis Amerika pun mengadopsi dark comedy dalam beberapa novel mereka. Tercatat ada beberapa nama novelis yang melakukan pendekatan dark comedy dalam beberapa karyanya. Roald Dahl, Kurt Vonnegut, Warren Zevon, dan Philip Roth adalah sederet nama yang menurut para kritikus dan wartawan berhasil dengan dark comedy.

Dark Comedy dan Efek Sosial

Tak sekadar hanya membawa tawa, dark comedy hadir dengan membawa efek sosial. Komedi yang disajikan dengan mengangkat kaum yang biasanya tertindas dan memojokan penindas. Menurut Wylie Sypher ” ketika kita sudah bisa tertawa kepada kejahatan dan kesalahan berarti kita sudah berhasil mengatasi mereka.”

Itulah yang menjadikan genre dark comedy mempunyai kehebatan tersendiri dan daya tarik yang abadi.

The Guardian menulis dalam salah artikelnya bahwa dark comedy mampu menyentuh isu-isu yang diremehkan padahal hal tersebut mempunyai kepentingan sosial yang mendalam. Dark comedy membawa asumsi tak peduli seberapa gamblang hal tersebut digambarkan, hal itu adalah sebagai bentuk kritikan. Para penikmatnya diajak untuk tertawa, dan mengintropeksi apakah hal tersebut hanya prasangka atau suatu kekhawatiran yang selama ini dipilih untuk dihindari.

Efek selanjutnya ada dua: pertama kita tertawa, lalu kita merasa ngeri, terganggu oleh pengetahuan bahwa apa yang menyebabkan tawa itu begitu dalam dan jelas salah.

Kegeniusan dark comedy adalah bahwa mereka menawarkan humor yang jujur dan jujur yang dikemas dengan luapan emosional yang tak terduga; sebuah kisah yang sekaligus memilukan dan membangkitkan semangat. Hasilnya adalah ketajaman yang bisa memberikan komentar satir yang tersembunyi oleh tawa memuaskan.

Menertawakan Dark Comedy Buktikan Kecerdasan

Baru-baru ini sebuah studi yang berjudul Cognitive and emotional demands of black humour processing: the role of intelligence, aggressiveness and mood menjelaskan bahwa reaksi kita pada humor dark comedy bisa menentukan tingkat kecerdasan. Dalam jurnal tersebut dijelaskan kalau kita bisa menertawakan dark comedy kemungkinan kita mempunyai IQ yang lebih tinggi dari pada mereka yang memilih untuk marah terhadap hal tersebut.

Penelitian ini dilakukan kepada beberapa kelompok orang dengan rentang usia yang berbeda dan tingkat pendidikan yang berbeda pula, mereka diminta untuk membaca buku kartun ‘The black book by Uli Stein’, Stein 1997. Dari hasilnya ditunjukan bahwa kelompok yang mampu menertawakan dark comedy mempunyai IQ yang lebih tinggi, tak hanya itu mereka juga mempunyai suasana hati yang lebih baik ketimbang kelompok yang tidak dapat menertawakan dark comedy.

Temuan ini juga mendukung penelitian lain yang mengatakan bahwa pengelohan humor tergantung pada kemampuan kognitif dan emsional. Menurut para peneliti, mencerna lelucon dalam dark comedy membutuhkan lebih banyak kemampuan mencerna informasi ketimbang lelucon pada umumnya. Tugas pemrosesan informasi yang rumit yang membutuhkan penguraian berbagai lapis makna, sambil menciptakan sedikit jarak emosional dari konten. Hipotesis lainnya menjelaskan bahwa agresivitas serta suasana hati yang buruk dapat mengarah pada kapasitas pemrosesan informasi yang berkurang sehubungan dengan konten humor yang menuntut secara kognitif.

 

Tawa secara bersamaan merupakan jalan melalui mana masalah-masalah sosial yang ditunda atau dikaburkan dari kehidupan kita yang sejatinya begitu dekat. Hanya dalam balutan dark comedy kita diajak tertawa lalu dibawa juga bertanya mengapa kita menertawakan ironi tersebut. Dalam kata lain dark comedy bukan hanya mencoba mengelitik perut kita tapi juga menggelitik nalar kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *