Dilema Creativepreneur, Soal Uang yang Tak Selalu Ada

Tentang pendapatan tidak tetap jadi freelance kreatif, especially if we’re total beginner. This is how to #MakeItWorth

Persoalan pelik yang selalu dibahas, apalagi, bagi kita yang baru ‘berniat’ menjadi freelancer. Memang bukan segalanya tentang uang, tapi ini adalah pertimbangan pertama saat memutuskan berkarir jadi freelance, terutama di dunia kreatif.

How do I start? Khawatir nggak ada duit.

Setiap freelance profesional punya cerita jalan karirnya masing-masing. Umumnya ada dua jalan: Berkarir sebagai freelancer dari awal, atau karyawan yang resign dan memutuskan bekerja freelance.

Orang-orang yang sedari awal menempuh pendidikan formal di dunia kreatif, biasanya sembari menjalani karir sebagai freelance paruh waktu. Dari sana, ia mungkin masih mengambil pekerjaan dengan harga yang tidak terlalu tinggi, tapi mulai mengembangkan portofolio dan networking. Begitu lulus kuliah, dan memasuki tahap hidup tanpa bantuan orang lain, karirnya sebagai freelance sudah lebih besar.

Cerita menarik misalnya, dari Arsya Nafisa, Moselo Expert yang memulai karir menjadi makeup artist di usia 16 tahun. Di usia tersebut, ia mungkin masih didukung oleh orangtua. Kemudian, secara konsisten, karirnya menanjak dan di usianya 22 tahun sudah mantap sebagai MuA. “Di usia segini, aku suka kerjaan aku, dan dapat biaya yang lebih dari cukup. Alhamdulillah banget,” cerita Arsya.

Bagi yang mulanya punya gaji tetap, kemudian ingin berkarir sebagai freelance penuh waktu, pastikan bahwa kita ada tabungan. Handcrafter/Moselo Expert, Evelyn Gasman, juga punya cerita sendiri. “Aku kerja kantoran, terus aku nabung, udah terkumpul, aku resign dan merintis bisnis sekarang.”

Perhitungan tentang karir dan uang sebagai backup untuk mendukung karir, akan mengurangi kekhawatiran kita memulai karir sebagai freelance!

Can I get money? Susah cari klien.

Promosikan diri sudah pasti. Sudah banyak social media untuk mempromosikan karyamu. Dengan konten social media yang konsisten dan kualitas karya yang baik, akan jadi langkah pertama untuk menjadi freelancer yang meyakinkan.

Platform kreatif seperti Moselo app, bisa jadi salah satu channel untuk mendapatkan klien. Mulai dari showcasing, diskusi, sampai transaksi hanya dalam satu aplikasi.

Itu pun, masih belum cukup, kita juga mesti ‘jemput bola’. Pastikan target market, siapa kira-kira pihak yang akan memakai jasa kita. Dari sana, lakukan pendekatan, sehingga dukungan networking juga perlu. Bazaar-bazaar dan event komunitas juga bisa menjadi cara ‘offline’ untuk dikenal industri. Terkenal dari mouth-to-mouth biasanya juga diiringi label ‘trusted’.

Yang pasti, karya juga akan berbicara. Pada tahap tertentu, tidak hanya cukup memenuhi standar industri, tapi harus kompetitif dan sebisa mungkin punya ciri khas sendiri.

Is it enough? Bayarannya kecil.

“Memastikan bahwa order worth it dikerjain atau nggak, juga jadi masalah,” kata Setia Adhi, Illustrator. Pricing memang hal yang sulit di dunia kreatif, dimana karya juga dinilai dari kualitas dan banyak faktor lainnya.

Rate ‘rendah’ atau ‘tinggi’, kadang-kadang jadi relatif. Lihat kebutuhan industri dan riset tentang rate orang lain juga perlu. Richard Fang, founder Moselo dan Weekend inc, pernah sharing tentang acuan pricing di luar materi yang dibutuhkan untuk membuat karya. “Tentukan basic needs dulu, biaya hidup kita. Kemudian, bagi per hari dan pertimbangkan berapa waktu yang diperlukan untuk membuat karya tersebut untuk dapat acuan harga. Dari sana, pastinya kita harus tambahkan dengan keuntungan yang ingin didapat, kualitas, perlu perbandingan juga dengan kreator lainnya.”

I got paid! Invoice udah cair!

Kata orang, semua akan indah pada waktunya, salah satunya adalah saat invoice cair. Berikan aturan dan kondisi pembayaran pada klien. Apakah dibayar full di muka, uang booking dulu, atau dibayar di belakang. Aturan-aturan ini juga bisa diterapkan pada perusahaan, namun tiap perusahaan juga punya peraturan soal pembayaran sendiri pada freelance. Diskusikan dengan cermat sebelumnya, untuk meminimalisasi resiko ‘invoice nggak cair-cair’.

Saat invoice cair — apalagi jika jumlahnya langsung banyak, ada kecenderungan digunakan berlebihan. Seperti dalam film Confessions of Shopaholic, selalu ingat ini, ‘Magic words: Do I need this?’. Hal ini juga berlaku saat kita mulai berinvestasi pada hardware dan software untuk kebutuhan berkarya. Pertimbangkan efektivitas dan rentang waktu barang yang kita beli bisa ‘balik modal’. ‘Invoice cair’ juga bukan berarti saatnya belanja, tapi juga saat untuk memikirkan simpanan backup saat sepi order, tabungan masa depan, atau kemungkinan menginvestasikan uang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *