Don’t wish it were easier. Wish you were better- Jim Rohn

“Don’t wish it were easier, wish you were better. Don’t wish for less problems, wish for more skills. Don’t wish for less challenge, wish for more wisdom”.– Jim Rohn, penulis, motivator, pengusaha

Jim Rohn dan Kehidupannya

Jim Rohn, pria kelahiran 17 September 1930. Ia dikenal sebagai pekerja keras dan tangguh yang mampu merubah dirinya dari hanya seorang anak petani yang miskin menjadi miliader di usia 31 tahun. Perjalanan hidupnya menjadi contoh semua orang Amerika. Selama 40 tahun ia aktif menjadi pembicara yang membuka cakrawala orang banyak untuk mengenalkan pada mereka tentang hal-hal baru kehidupan.

Jim Rohn sangat dihormati di dunia internasional sebagai pemikir paling berpengaruh pada abad 21. Falsafah bisnis yang mendalam, wawasan visioner, dan pesan-pesan motivasimembuatnya menjadi pembicara dan penulis yang populer dan disegani. Untuk hal tersebut ia diganjar sebuah penghargaan CPAE dari National Speakers Association pada tahun 1985. Ia wafat pada 5 Desember 2009 lalu dengan mewariskan buah pemikiran yang revolusioner dalam buku-buku dan video yang telah ia terbitkan.

Jim Rohn dan Misi Mulianya

Jim Rohn dianggap motivtor terbesar sepanjang masa. Motivasinya selalu mendekati subjek dengan runtutan pertanyaan “Mengapa?” “Kenapa tidak?” “Kenapa bukan kamu?” “Kenapa tidak sekarang?” Lalu dia akan menjawab pertanyaan tersebut melalui prespektifnya dengan pikiran yang tajam untuk dapat sukses dan produktif. Gaya istimewa yang membuat Jim begitu disukai adalah ia selalu menggunakan ungkapan yang jenaka dan anekdot yang memikiat pendengarnya dan membuat mereka antusias.

Menjadi seorang pengusaha, penulis, dan miliuner yang merangkak dari bawah membuat Jim Rohn bertekad untuk membantu orang di sekitarnya mendapatkan apa yang mereka ingin capai.

Ia juga memiliki andil besar dalam menyusun “Business Plan” dari sebuah perusahaan industri kesehatan, yang menjadikan perusahaan tersebut kini menjelma menjadi perushaan besar secara global.

 Don’t Wish It Was Easier

Kita semua memiliki masalah dalam hidup, memiliki tantangan sendiri, kita memiliki penderitaan kita sendiri, kita memiliki beban tanggungjawab sendiri. Namun terkadang semua itu menjadi seperti situasi yang begitu berat dan tak sanggup untuk kita tanggung.

Ketika kita dalam situasi yang kita rasa sulit, sepertinya menjadi hal yang natural kita meminta itu adalah hal mudah. Kita begitu berusaha keras untuk membuatnya bekerja, namun kadang hal tersebut berada di luar kendali kita, dan membuat kita mengutuk hal-hal tersebut. Mengapa hal tersebut tak berjalan sebagai mana mestinya, sesuai dengan jalurnya dan membuat kita mengerjakannya lebih mudah.

Rasanya seperti yang kita ingin menghilang saja sehingga tak perlu melakukan hal sulit itu. Menghilang sehingga kita tak menderita dan menyedihkan.

Sepanjang perjalanan, kita lupa apa sesungguhnya fungsidari segala kesulitan yang kita alami dan tantangan dalam hidup kita. Kita lupa untuk apa sesungguhnya semua itu ada untuk satu alasan. Pikiran kita menjadi terbatas.

Mengarap semuanya lebih mudah, semuanya sedikit masalah, semuanya sedikit tantangan hanya akan menjadikan diri kita korban. Korban dari kesempatan diri kita untuk tumbuh dan berkembang menjadi versi lebih kuat, lebih baik  dari diri kita sendiri.

Selesaikan saja. Tidak ada alasan. Apa yang dapat kita lakukan, menangisi hal itu? Berteriak, cemberut, mengumpat? Semua itu hanya peluapan emosi sesaat yang tak akan merubah situasi. Dalam situasi seperti itu yang kita butuhkan sejatinya peningkatan proses berpikir. Berpikir kritis, manajemen diri, kelola ekspetasi.

Jika kamu bergumul dengan segala hal yang membuatmu merasa hal tersebut sulit, yang perlu kamu ingat adalah kamu berkembang.

Kamu menemukan kesulitan hari ini. Kamu sedang belajar, untuk tumbuh, untuk maju, dan akan menjadi lebih baik untuk itu.  Selalu menjalankan hal hal begitu mudah membuat kita tak kemana-mana, tak punya keterampilan lebih, kita harus menjadi yang terbaik dari yang kita bisa.

Jim Rohn, ingin kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu sebelum kita memperbaiki dunia luar, terbentur dengan hal-hal sulit sejatinya dapat menjadikan diri kita berkembang baik dari segi keterampilan dan emosional. Jangan lagi menghindari hal-hal sulit, jangan lagi meminta semua hal mudah karena itu malah membuat kita tak kemana-mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *