Emoji dan Hal-Hal Menarik Di Dalamnya

Lebih dari sekadar gambar kecil yang lucu, emoji adalah bahasa pergaulan di era digital.

Emoji di era pesan singkat berbasis digital seperti saat ini menjadi sesuatu yang tak bisa dilepaskan. Emoji hadir dengan menawarkan cara baru kepada kita untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan yang mungkin tak mampu terutarakan dengan kata-kata. Bahkan telah menjadi ciri khas dalam komunikasi belakangan ini. Tak hanya menawarkan cara baru dalam berkirim pesan, emoji juga telah menjadi bahasa pergaulan yang dipahami secara global. Saat ini ada ribuan emoji yang merangkum keberagaman.

Emoji dalam Digit

12×12 pixel adalah ukuran emoji ketika pertama kali dibuat oleh perusahaan operator asal Jepang.

176 jumlah emoji ketika pertama kali dibuat berdasarkan pengamatan ekspresi manusia dan hal-hal yang ada di perkotaan seperti lalu lintas, cuaca. Namun saat itu baru bisa digunakan hanya di Jepang.

114 jumlah emoji peta. Ini adalah bentuk tanggapan dari protes beberapa negara Eropa ketika emoji hendak di populerkan di luar Jepang.

2.666 jumlah emoji yang ada sampai pada Juni 2017 sejak kemunculannya pertama kali.

92% orang menggunakan emoji dalam percakapan mereka di media sosial.

Sejarah Emoji

Awalnya emoji digunakan oleh operator asal Jepang, NTT DoCoMo, au, dan SoftBank Mobile yang diciptakan oleh Shigetaka Kurita pada 1999. Kurita bekerja di tim pengembangan untuk i-mode. Tujuan utama dari DoCoMo menciptakan emoji untuk menemukan cara baru mengungkapkan informasi. Saat itu emoji baru berupa ikon cuaca, lalu lintas, teknologi, dan waktu.

Emoji pertama keluaran NTT DoCoMo

 Timeline Emoji

1999: Emoji pertama kali diciptakan di Jepang oleh Shigetaka Kurita. Ia terinspirasi dari ramalan cuaca yang menggunakan simbol untuk menunjukan keadaan cuaca.

Shigetaka Kurita

2000-an: Emoji mulai bisa digunakan di luar Jepang. Namun masih dalam aplikasi yang terpisah, yang memungkinkan pengguna untuk copy-paste ikon ke dalam pesan teks atau email.

2007: Google membiayai pengajuan petisi untuk memasukan emoji ke dalam Unicode Consortium, suatu standar industri yang dirancang untuk mengizinkan teks dan simbol dari semua sistem tulisan di dunia untuk ditampilkan dan dimanipulasi secara konsisten oleh komputer

2009: Apple bergabung dengan Google dan mengajukan proposal resmi untuk mengadopsi 625 emoji baru dalam Unicord Standart.

2010: Emoji diadopsi Unicode, emoji mulai diindeksan menjadikan emoji dapat diakses secara luas.

2011: Apple secara resmi menambahkan emoji dalam keyboard iOS. Ini memungkinkan orang mengakses emoji langsung dari keyboard. Dari sini emoji menjadi populer di Amerika.

2013: Mengikuti langkah Appel, Android juga menambahkan emoji dalam keyboard perangkat sistem operasi mereka.

2014: 17 Juli 2014 ditetapkan sebagai World Emoji Day yang digagas oleh Jeremy Burge CEO dari Emojipedia yang berbasis di London. Pemilihan tanggal tersebut mengikuti tradisi dari Appel

2015: Unicode menambahkan opsi pemilihan warna kulit, sebagai bentuk menghargai perbedaan.

2016: Beberapa emoji baru kembali ditambahkan seperti ayah tunggal, pride flag, dan wanita angkat besi.

2017: Para peneliti di University of Michigan menganalisis lebih dari 1,2 miliar pesan yang masuk melalui Keyboard Kika Emoji dan mengumumkan emoji Face With Tears of Joy (😂)menjadi emoji paling populer.

Fakta Emoji

Emoji Bukan Emoticon

Banyak yang mengira bahwa emoji dan emoticon adalah dua hal yang sama. Padahal itu merupakan dua hal yang berbeda. Memang kita terlebih dahulu familiar dengan emoticon terutama untuk mereka generasi 90-an. Namun emoji yang kita sering pergunakan sekarang tidak sama dengan emoticon yang dahulu kita sisipkan diakhir pesan.  Emoji merupakan gambar dan simbol nyata yang ditampilkan dalam perangkat, sedangkan emoticon adalah ekspresi yang kita buat dari karakter dasar yang ada pada keyboard kita.

Misalnya wajah smile kuning dan semua variasinya yang ada di ponsel pintar kita itu adalah apa yang disebut emoji. Sementara itu, gabungan dari titik dua dan tutup kurung yang akan mengekspresikan senyum adalah emoticon.

Kontroversi Emoji

Semenjak muncul dan berkembang dengan aneka ragam. Emoji ternyata juga tak lepas dari kontroversi, tak selamanya kemunculan ikon ikon baru ditanggapi postif oleh para pengguna. Ternyata ada beberapa emoji yang menuai protes dan kecaman sehingga memunculkan kontroversi dibeberapa kalangan. Tercatat ada beberapa emoji yang mendapat protes bahka sampai ingin dibawa kejalur hukum.

Emoji Apple

Baru-baru ini Apple mendapat protes keras karena emoji bagel yang mereka keluarkan pada iOS 12.1 beta dinilai tidak realistis dari yang semestinya. Protes dilayangkan mengatas namakan warga New York yang tak mau bagel versi mereka terlihat layaknya mainan. Walau terdengar sepele namun Apple langsung melakukan perubahan dengan menambahkan krim di tengah bagel.

Sebetulnya bukan kali pertama ini emoji yang dikeluarkan Apple mendapatkan protes, pada 2016 lalu ketika iOS 10 keluar. Apple menambahkan emoji tembakan yang lalu dikecam oleh pihak kepolisian. Apple kemudian menggantinya dengan pistol air hijau.

Emoji Bagel Iphone

Emoji WhatsApp

Kasus protes terhadap emoji bukan hanya terjadi kepada Apple saja. Ini juga menimpa aplikasi WhatsApp pada 2017. Seorang pengacara dari New Delhi melaporkan WhatsApp karena mengeluarkan emoji jari tengah atas dasar bahwa perusahaan “secara langsung bersekongkol dengan penggunaan gerakan yang menjijikkan, cabul, tidak senonoh” melanggar KUHP India.

Merangkul Komunitas yang Kurang Terwakili

Ketika semakin digandrungi emoji bukan hanya lagi tentang masalah pengungkapan hal-hal yang ada disekitar. Tapi sudah menjadi pengakuan digital terhadap budaya. Itu terjadi ketika emoji yang mewakili makanan ( tidak ada yang mewakili makanan khas afrika), emoji bendera (mengapa ada bendera Israel namun tak ada bendera Palestina), emoji orang tua (perdebatan tentang anggota keluarga, unit orang tua), dan banyak lagi. Makin banyak komunitas tertentu yang meras perlu diwakilan oleh emoji yang dianggap sebagai bahasa era digital.

Unicode mencoba untuk memfasilitasi hal tersebut dengan memberikan hak kepada siapa saja untuk mengajukan proposal untuk menambahkan desain emoji baru. Iya, Unicode memperbolehkan siapa saja untuk membuat emoji.

Dengan persyaratan mereka harus memberikan penjelasan bagaimana dan mengapa orang menggunakan emoji tersebut, dan apakah emoji tersebut dapat menambah pembendaharaan bahasa emoji. Hal itu coba dilakukan oleh sebuah sekolah kesehatan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mengusulkan emoji nyamuk sebagai penggambaran penyakit Zika dan malaria. Unicode menyetujui hal tersebut. Tidak semua orang dapat mengerti penjelasan konsekuensi medis dari Zika dan bahayanya nyamuk malaria, tapi satu emoji nyamuk mampu melakukan itu.

Emoji bukan lagi sekadar bentuk pengungkapan emosi, lebih dari itu emoji adalah tentang budaya baru di era digital. Tidak semua mengerti bahasa internasional, tidak semua orang mampu mengungkapkan pemikiran mereka tentang hal-hal tertentu. Tapi dengan deretan ikon-ikon? Semua orang bisa mengerti. Emoji menjadi cara mengatasi kendala bahasa yang kita kenal. Melalui emoji kita mengerti satu bahasa yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *