Fellexandro Ruby’s Passion Leads to Enjoyable Job

Berawal dari menulis blog tentang food di Wanderbites dan membagikan foto foodnya di akun Instagram captainruby, Fellexandro Ruby memulai karir profesionalnya sebagai food photographer! Ia semakin mantap dengan bisnisnya dan Moselo punya kesempatan untuk membahas perjalanan karirnya.

“I’m intrigued to create my perfect job and that’s what inspires me to jump in my passion,” ujarnya. Simak cerita Ruby di bawah ini.

Apa yang membuatmu terjun ke bisnis ini?

Saya terjun ke bisnis ini berawal dari hobi, memotret apa saja yang menurut saya menarik. Kemudian, saya menemukan passionsaya di fooddan travel, dan tersadar bahwa saya memiliki album foto khusus fooddi Facebook — saat itu saya di Sydney, pada 2009. Memotret foodjadi sesuatu yang saya senang lakukan.

Saya mulai menulis dan mulai membuat blog, lalu mencoba mengumpulkan semua yang saya suka, memotret food dan menulis, dalam satu medium, dan lahirlah Wanderbites.

Dari satu hal berlanjut ke lainnya, saya mendapat tawaran kerja untuk food photography, memotret untuk halaman resep masakan di sebuah majalah. Dari satu pekerjaan, dapat pekerjaan lainnya. Tanpa sadar, saya memiliki klien untuk food photography.

Pada 2012, saya memutuskan untuk untuk sepenuhnya masuk dalam bisnis ini, food photography.

Apa yang menginspirasimu untuk melakukan hal yang kamu sukai?

Saat saya baru saja memulai food photography, saya membaca buku dari Marcus Buckingham dan Rene Suhadono tentang passion. Saya tenggelam dalam idenya dan menjadi penganut gagasan tentang passionini. Saya membagikan gagasan ini ke banyak teman. Tapi kemudian, saya menyadari jika saya hanya bercerita, maka saya tidak jujur pada diri saya sendiri dan orang lain, hanya sekadar omongan saja. Jadi, saya tinggalkan pekerjaan saya saat itu di bidang bisnis alat berat — yang tentu saja sama seali tidak ada hubungannya dengan fooddan fotografi, dan mulai mengerjakan apa yang suka, dan saya bisa hidup dengan ini!

Saya melakukan ini adalah fakta bahwa saya bisa mengerjakan apa yang saya sukai, saya bisa hidup dari ini, dan rasanya seperti mengerjakan sebuah hobi yang mendatangkan uang. Hari-hari saya menjadi lebih nyaman dan dapat dinikmati. Orang bilang, “Jika kamu menikmati setidaknya 75% dari pekerjaanmu maka kamu akan bahagia. Karena tidak ada yang namanya pekerjaan sempurna, kamu harus meciptakan pekerjaan sempurnamu sendiri.”

Saya terpanggil untuk membuat pekerjaan sempurna untuk saya sendiri, dan itulah yang membuat saya menekuni passion. Dan saya harap, dengan terjun langsung, saya juga bisa menginspirasi orang lain untuk berani mengeksplorasi passionmereka, untuk mengalkulasikan langkah yang mereka ambil — bukan sembarang terjun yang akan mengarah pada kekacauan. Dalam kasus saya, saya memiliki tabungan untuk setahun, sehingga jika terjadi sesuatu yang buruk, saya masih bisa bertahan. Dan ketika saya meninggalkan pekerjaan tetap pada 2012, ternyata saya bahkan tidak perlu sampai menggunakan tabungan saya.

Apa yang membedakan karyamu dibandingkan yang lainnya?

Saya pikir orang lain yang dapat menilai perbedaan, maka biarkan pasar yang memutuskan. Tapi, jika harus menjawab pertanyaan, saya pikir semua orang memiliki dasar yang mirip tentang fotografi (lighting, styling, komposisi, dll), tapi yang membuat saya berbeda adalah gaya. Ini perihal pendekatan dalam food photography,saya memilih menggunakan real food, saya menghindari fakefood. Dan itu mendefinisikan standar.

Saya juga lebih memilih untuk tidak banyak mengatur makanan, saya lebih suka membiarkan makanan itu sendiri yang berbicara. Saya percaya dengan istilah ‘wabisabi’- beauty in imperfection. Itu yang saya coba buat dalam foto.

Dari sisi style, banyak orang terkungkung pada kategori tertentu. Tapi untuk saya, saya dapat membuat agar karakter saya — cara saya di fotografi — dapat memenuhi keinginan klien dan brand.

Banyak fotografer di luar sana melakukan berbagai pekerjaan di banyak kategori. Saya yakin bahwa jika kita memiliki passionterhadap subjek tertentu, dalam kasus saya adalah fooddan travel, rasa cinta yang kamu punya untuk subjek tersebut dapat terlihat melalui foto. Hasilnya akan sangat berbeda jika kamu bekerja hanya karena ingin melakukan proyek, sementara passiondan ketertarikanmu pada hal lain.

Salah satu hal yang tim saya miliki adalah kami mencari orang-orang yang secara alami memang menyukai makanan dan food photography. Jadi, hasilnya akan terlihat.

Sudah berapa lama menekuni dunia ini, dan bagaimana progressnya dari waktu ke waktu?

Saya menekuni passion ini sejak 2009, tapi mulai melakukannya penuh waktu sejak 2012. Sudah sekitar 9 tahun.

Secara teknis fotografi, mulanya saya sangat strictterhadap lighting dan sekarang saya telah berkembang menjadi orang yang bukan terlalu mengejar kesempurnaan, tapi lebih pada ‘rasa’. Sangat penting rasa dan ide yang ingin disampaikan oleh brand, melalui penyampaian visual produk.

Saya belajar bahwa ini bukanlah tentang kesempurnaan lightingmisalnya, tapi lebih pada foto seperti apa yang ingin disampaikan, dan bagaimana oorang-orang dapat merasakannya, ketimbang mencapai foto yang sempurna.

Dulu saya memiliki standar bahwa semuanya harus sempurna, dan tidak mengizinkan sedikit tweakatau intervensi dari semesta, yang mungkin sebenarnya malah membuat foto jadi lebih unik. Kalau tidak, malah akan membuat foto jadi sama dengan yang lain.

Saya juga memiliki perkembangan klien , dan bagaimana saya menjalankan bisnis. Klien saya dimulai dari kerjaan yang tidak dibayar di majalah, menjadi restoran, kafe, hotel, dan brandbesar lainnya. Lalu ada foto untuk kebutuhan komersial, mulai dari foto untuk resep, hingga buku, beranjak ke iklan digital dan cetak.

Secara bisnis, saya juga mencocokkan dengan kebutuhan pasar. Misalnya, ketika saat itu belum banyak permintaan akan konten media sosial, tapi 3–4 tahun belakangan, kami memperluas kapabilitas, menambahkan lebih banyak fotografer, tim desain, dan tim visual untuk menangkap kebutuhan pasar. Dan sekarang, kami menawarkan konten fotografi — fotografi sederhana yang sempurna untuk konten harian Instagram, tidak setinggi kelas untuk iklan, namun diproduksi dan disampaikan lebih baik dengan tujuan.

Bagaimana klien menginspirasimu untuk membuat sesuatu yang lebih dan berbeda?

Saya menyukai tantangan. Jadi, ada saat ketika saya melakukan pemotretan dan saya harus menemukan bagaimana tampilan dan ‘rasa’ yang diinginkan klien. Dan itu adalah permintaan yang membuat saya excited, karena artinya saya sudah mulai melangkah lebih maju lagi.

Memiliki klien yang sudah tahu apa yang mereka inginkan, dan mempercayakan pada kita untuk mencapainya, adalah yang menginspirasi saya untuk membuat sesuatu yang lebih dan berbeda. Ini adalah kebebasan dan fleksibilitas untuk melakukan apa yang kita inginkan berdasarkan brief, dibandingkan hanya mengerjakan apa yang ditentukan saja. Jadi, ini adalah kepercayaan dan kebebasan dari klien.

Beritahukan kepada kami hal tentang food photography yang tidak umum diketahui, dari sudut pandang sebagai food photographer.

Saya ingin berbagi tentang masih ada orang-orang yang melihat food photographysebagai “tukang foto”. Misalnya, ada beberapa orang yang menghubungi dan mengatakan, “Hai, bisakah kamu datang dan memotret untuk restoran saya besok?”. Iya, ini adalah yang kita dapat kerjakan, tapi kami memilih untuk bekerja dengan konsep kuat, apa yang ingin klien sampaikan melalui foto.

Kami dapat membuat foto yang cantik, bahkan pada hari itu juga, tapi tidak sesuai dengan brand(perspektif, ide, dan tujuan), dan akhirnya, ini menjadi tidak berguna. Kami ingin memaksimalkan itu untuk klien, klien telah membayar kami dan kami ingin memberikan yang terbaik untuk Anda, sehingga lebih baik kita persiapkan sebelumnya.

Hal-hal kecil juga sebenarnya berarti, properti yang kami gunakan, meskipun kecil, apa warnanya, dan apakah nanti akan akan menggunakan food stylist atau tidak, semuanya perlu dipikirkan. Orang-orang melihat bahwafood photographer sesederhana orang yang menggunakan kamera mirrorless, datang, duduk di bawah cahaya matahari, dan jadilah foto yang bagus. Sebenarnya tidak sesederhana itu. Banyak hal yang harus dipikirkan dalam persiapan, saat hari-H, dan post processing.

Fellexandro Ruby akan berbagi cerita lebih banyak tentang perjalanannya sebagai creativepreneurdi event Moselo Talk! Tunggu info event-nya di Instagram moseloapp!

*Artikel ini dimuat di journal.moselo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *