Jatuh Bangun Majalah Rolling Stone

Majalah Rolling Stone mendefinisikan ikon-ikon dalam sastra yang keren dan sampul yang digarap dengan deretan bintang yang menjadi dambaan semua anak.

Tetapi badai besar mengguncang industri penerbitan, dan beberapa langkah strategi pemasaran yang salah, terus mengancam keuangan Rolling Stone, ditutup dengan pemberitaan yang tak mengandung bukti kuat tentang pemerkosaan geng tiga tahun lalu di University of Virginia membuat memar buruk bagi jurnalistik majalah Rolling Stone.

Majalah Rolling Stone dalam Digit

$ 7.500, Uang yang di pinjam Jann S. Wenner ketika ingin memulai Rolling Stone.

5.000, Jumlah edisi pertama majalah Rolling Stone yang terjual.

$ 250 juta, Diperkirakan nilai dari Rolling Stone pada tahun 1990.

$ 40 juta, Uang investasi BandLab  untuk mengakuisisi 49% saham Rolling Stone.

12 tahun, Lama waktu majalah Rolling Stone terbit di Indonesia sebelum akhirnya berhenti di awal Januari 2018.

9 jam, Wawancara yang dilakukan John Lenon dengan editor Rolling Stone Jonathan Cott, ini menjadi wawancara terakhir John Lenon, tiga hari kemudian ia ditembak mati oleh penggemarnya.

273 orang, Ditanyai oleh Rolling Stone berisikan produser, artis, eksekutif rekaman, jurnalis, pemilik toko kaset, dan lainnya di industri musik untuk menyusun edisi the 500 Greatest Albums of All Time pada 2003.

Sejarah Majalah Rolling Stone

Jann S. Wenner

Dari sebuah loteng di San Fransisco, seorang pemuda berusia 21 tahun, Jann S. Wenner memulai sebuah majalah yang akan menjadi kitab suci budaya bagi generasi bunga, generasi yang besar dengan musik rock ditelinga. Pada tahun 1967 obsesi Wenner terhadap musik rock menghantarkannya untuk memulai majalahnya sendiri yang ia maksudkan untuk menjadi barometer selera artistik dan kepekaan politik bagi generasi mahasiswa. Ia meminjam uang $ 7.500 kepada keluarganya dan mengajak sahabat baiknya Ralph Gleason, seorang kritikus jazz untuk surat kabar San Francisco Chronicle.

Kala itu Rolling Stone menempati sebuah ruang gratisan di sebuah kantor percetakan. Hanya ada beberapa meja dan kursi. Di bulan-bulan awalnya Wenner hanya dibantu oleh beberapa kontributor. Majalah Rolling Stone berformat terbit dua mingguan, edisi pertama Rolling Stone terbit pada 9 Nopember 1967 dengan John Lenon sebagai sampul pertamanya dari 40.000 cetakan hanya terjual 5000.

Tahun 1970 Rolling Stone menapaki kejayaannya, ia menjadi semakin besar, tidak hanya bernama besar di jagat penulis populer namun menjadi yang terbesar.  Majalah Rolling Stone menawarkan sesuatu yang tak dimiliki majalah lainnya kala itu, ia menggabungkan gairah dan profesionalisme, menggabungkan bahasa formal dan “bahasa jalanan yang tepat”. Banyak penulis dan jurnalis lahir pada masa ini, seperti Hunter S. Thompson, Cameron Crowe, Lester Bangs, dan Greil Marcus.

Majalah Rolling Stone semakin menjadi tren memasuki tahun 1980, dan menjadi sampulnya adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi para musisi di seluruh dunia. Melebarkan sayap dengan tak hanya mengulik tentang musik menjadi cara Rolling Stone menjaring pembaca mudanya kala itu.

Selanjutnya, beberapa batu sandungan menggoyang kejayaan Rolling Stone. Era 2000-an sepertinya kurang bersahabat dengan Rolling Stone, banyak kritikan yang datang dari para pembaca yang merasa Rolling Stone lebih condong pada musik era 1960-1970-an.

Majalah yang terbit di 21 negara ini semakin terpojok setelah pada 2014 lalu menulis laporan berjudul “A Rape On Campus” yang mengisahkan tentang dugaan pemerkosaan masal di Universitas Virginia. Laporan itu menuai kecaman dan kritik tajam, salah satunya dari The Washington Post yang menganggap bahwa itu adalah pengaburan kebenaran, ketidakakuratan, dan sejumlah fakta tertulis yang tak dimuat dalam tulisan.

Rolling Stone pun menerbitkan tiga permohonan maaf atas hal tersebut, hingga membuat tim investigasi khusus terkait cerita tersebut. Namun itu tampaknya tak cukup, Rolling Stone sudah terlanjur banyak dihujat, terutama oleh mahasiswa Phi Kappa Psi.

Pada saat yang sama, Rolling Stone mendapat gambaran keuangan yang suram, pendapatan iklan dan penjualan menurun. Pembaca semakin memeluk web untuk web dan berita hiburan mereka. Wenner skeptis tentang hal ini, ia begitu keras kepala yang menyebabkan kerusakan pada perusahaanya.

Setengah abad memegang Rolling Stone, Wenner pun akhirnya memutuskan untuk menjual saham Rolling Stone di tahun 2017 agar majalah ini tak kehabisan bahan bakarnya. Melepaskan cengkraman yang ia dirikan sejak awal dipilih Wenner karena ia merasa akan ada masa depan yang sulit dan tidak pasti jika ia kelola ini sendiri. Saham sebesar 49% dijual kepada perusahaan BandLab Technologies, sebuah perusahaan teknologi musik yang berbasis di Singapura.

Kini bukan ia lagi tangan dibalik nahkoda Rolling Stone, ia hanya akan melihat dari kejauhan, hingga berapa jauh Rolling Stone di bawah nahkoda baru akan terus berlayar dan mengembagkan layarnya di belantika industri cetak.

Timeline Majalah Rolling Stone

9 Nopember 1967– Rolling Stone pertama kali terbit.

1970– Memasuki masa jayanya dan menjadi majalah besar yang juga melahirkan beberapa nama penulis besar.

5 Desember 1980– Editor Rolling Stone mewawancarai John Lenon, dan menjadi wawancara terakhir John Lenon.

22 Januari 1981– Rolling Stone mengeluarkan edisi khusus John Lenon untuk memberikan penghormatan terakhir. Edisi ini berisikan foto-foto ekslusif John Lenon dan istrinya Yoko Ono termasuk wawancara terakhirnya.

1992– Majalah menerbitkan wawancara dengan kandidat presiden dari Partai Demokrat Bill Clinton, yang dilakukan oleh Jann Wenner, Hunter S Thompson, PJ O’Rourke dan William Greider.

awal 200-an– Banyak kritikan untuk Rolling Stone karena terlalu mengikuti musik 1960an.

11 Desember 2003– Rolling Stone merilis edisi the 500 Greatest Albums of All Time.

2006– Rolling Stone memasuki cetakan ke 1000.

23 Desember 2010- 3 Januari 2011– Memperingati 30 tahun kematian John Lenon, Rolling Stone mencetak keseluruhan wawancara terakhir John Lenon.

2014– Kritikan tajam datang kepada Rolling Stone setelah menerbitkan cerita tentang pemerkosaan di Universitas Virginia.

2016– Wenner menjual 49% saham Rolling Stone ke perusahaan asal Singapura.

1 Januari 2018– Majalah Rolling Stone Indonesia berhenti terbit.

Fakta Majalah Rolling Stone

Di Balik Nama Majalah Rolling Stone dan The Rolling Stone

Masih menjadi pertanyaan untuk sebagian besar orang, apakah majalah Rolling Stone dan band The Rolling Stone adalah satu kesatuan. “Rolling Stone” punya sejarah panjang di belantika musik.  Tercatat dua penyanyi besar pernah memakai istilah Rolling Stone, seperti Bob Dylan di tahun 1965 dan Muddy Waters  pada 1950.

Band The Rolling Stone lah yang memakai nama ini terlebih dahulu di tahun 1962, sementara 5 tahun berselang baru majalah Rolling Stone terbit. Ini mungkin mengherankan, namun lewat edisi pertamanya Wenner menjelaskan bahwa yang coba majalahnya lakukan adalah mencerminkan apa yang ia lihat tentang perubahan pada musik rock and roll. Muddy Waters menggunakan nama itu untuk lagu yang ditulisnya. The Rolling Stones mengambil nama mereka dari lagu Muddy. “Like a Rolling Stone” adalah judul rekaman rock and roll pertama Bob Dylan. Rolling Stone adalah bentuk penghormatan terhadap musik yang menginspirasi Wenner namun Mick Jagger tak senang dengan hal tersebut, terlebih The Rolling Stone tidak ditempatkan pada edisi sampul pertama.

Jagger pun semakin kesal ketika bagaimana The Beatles menggunakan majalah Rolling Stone sebagai kendaraan promosi mereka. Sembilan bulan dan 14 surat tentang masalah perebutan nama ini belum sekalipun band The Rolling Stone menghiasi sampul majalah milik Wenner, sementara saingan berat mereka, The Beatles, telah muncul tiga kali.

Barulah pada 10 Agustus 1968, Wenner meletakan Mick Jagger dibagian sampul untuk pertama kalinya. Beberapa bulan sesudahnya ia terbang ke Inggris untuk menemui Jagger. Selama berbulan-bulan ini menjadi kasus yang alot.

Akhirnya saat Wenner setuju untuk gencatan senjata dengan kedatangan debut akting film Mick Jagger. Jagger, yang selalu pragmatis, mengundang Wenner untuk melihat preview awal dan Wenner meletakkannya di sampul Rolling Stone. Stafnya sangat marah karena mau mengalah dari Jagger.

Namun Wenner tidak tertarik untuk semakin mengasingkan Jagger. Itu adalah keputusan bisnis yang cerdik. Penyanyi itu akan menjadi wajah paling penting dalam sejarah Rolling Stone, muncul di sampul lebih dari artis lain (31 kali), selalu menjadi penjual tinggi secara konsisten. Jagger mendapat manfaat, tentu saja – bertahun-tahun menjadi mitologis oleh penulis dan fotografer terbaik.

Pada saat itu pun, Jagger dan Wenner menjadi teman beberapa kalipun mereka pergi berlibur bersama, seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Bagaimana Majalah Rolling Stone Mendefinisikan Budaya untuk Generasi

Dalam upayanya menemukan sesuatu yang berkaitan dengan hidupnya, Wenner meminta saran kepada sahabatnya yang seorang kritikus musik Ralph J. Gleason, yang menyarankan bahwa dunia membutuhkan “koran rock and roll”. Wenner pun memutuskan menamai majalahnya Rolling Stone yang terinspirasi, Bob Dylan, dan dampak budaya tahun 1960-an. Itu adalah nama yang merangkum elemen-elemen kunci dari perubahan zaman. “Saya pikir rock and roll membutuhkan suara,” tulis Wenner. “Suara jurnalistik, suara kritis, suara orang dalam, suara evangelis – untuk menggambarkan betapa serius dan pentingnya musik dan budaya musik telah menjadi.”

Dibawah kepercayaan tingkat tinggi Wenner tentang perubahan yang sedang terjadi pada dunia, bergeser, dan bahwa ikon budaya memainkan peran besar dalam hal itu, dan harus diakui karena melakukan hal itu.

Majalah ini menangkap semangat saat itu, dengan cepat Rolling Stone mendapat pengikut, perpaduan yang unik antara liputan musik dan jurnalisme politik dengan musik sebagai intinya karena kita semua tahu, bahwa musiklah yang menyatukan semua orang.

Ideologi liberal Rolling Stone juga telah berkembang menjadi salah satu keunggulannya. Rolling Stone telah menerbitkan wawancara petinggi di Amerika seperti Bill Clinton dan Barack Obama, keduanya dilakukan langsung oleh Wenner.

Wenner memastikan bahwa Rolling Stone berisikan orang-orang yang tepat. Editorial mereka bukalah sebuah ulasan musik pop pendek dan tajam, melainkan artikel-artikel panjang yang ditulis oleh para penulis bersemangat dan cerdas, yang terkadang menghabiskan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mewawancarai, membayang-bayangi orang yang diwawancara untuk mendapatkan profile paling mendalam.

Baik kamu pernah membacanya atau tidak, Rolling Stone adalah kitab suci yang baik bagi siapapun tentang musik dan melek politik. Ini adalah bentuk penghargaan tinta dan kertas untuk hasrat, kerja keras, dan rasa hormat.

Dunia penuh dengan orang-orang mempesona, cerita, politik, makna, gairah. Dibutuhkan orang secemerlang Wenner untuk membungkusnya menjadi satu kesatuan yang utuh yang mampu melewati beberapa generasi. Majalah Rolling Stone adalah satu bukti bahwa bukan tentang apa yang ditampilkan pada lembar majalahmu, melainkan apa yang kamu lakukan dengan mereka, untuk siapa itu dan melestarikannya selamanya.

Rolling Stone telah memainkan peran dalam beberapa zaman, secara sosial politik, dan budaya membimbing dan mendefinisikan generasi cakupannya merambah budaya pop. Seperti ditulis Wenner untuk The Guardian dalam rangka memperingati 50 tahun Rolling Stone. Rolling Stone sudah tak bisa lebih hebat dari yang sudah ia capai ketimbang daripada ini. Rolling Stone kini seperti memasuki pesta yang sudah usai, dan mencoba mencari pesta lainnya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang masih mengawang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *