Kenapa Kita Masih Saja Mau Menonton Film Horor

Kita punya alasan-alasan yang jelas ketika menonton sebuah film. Menonton film komedi karena itu membuat kita tertawa, menonton film klasik karena itu membuat kita bernostalgia. Lalu mengapa kita masih suka menonton film horor padahal kita menutup mata ketika menontonnya?

Film-film horor dirancang untuk membawa teror kepada para penontonnya. Kita secara sukarela membayar itu dan terkadang terbawa dengan sensai teror tersebut hingga film berakhir. Walaupun rasa ketakutan yang sering ditimbulkan dari menonton film horor sulit hilang, namun kita tak bisa berhenti untuk tidak menonton film horor. Sebelum mengetahui alasannya, mari kita bedah lebih dalam tentang film yang membuat kita ingin berteriak dan menutup mata ini.

Film Horor dalam Digit

9,8 Triliun adalah total pendapatan film remake IT (2017) secara global dan menjadikannya film horor terlaris sepanjang masa. Sekuel film ini sedang dipersiapkan dan direncanakan siap menakutkan kamu di bulan September tahun depan, apakah bisa sesukses yang pertama. Kita akan tahu itu di September 2019.

USD 320 ribu adalah biaya produksi Film horor Halloween (1978), yang menjadi biaya produksi termurah untuk ukuran film horor. Namun walau dengan biaya produksi yang murah, Halloween berhasil sukses mendapatkan pendapatan sebesar USD 70 juta

4,2 Juta adalah jumlah penonton film remake Pengabdi Setan (2017) besutan Joko Anwar. Jumlah tersebut menjadikan film ini sebagai film horor Indonesia terlaris sepanjang masa mengalahkan Jelangkung karya Rizal Mantovani dan Jose Poernomo pada 2001 dengan jumlah 1,5 juta.

19 adalah jumlah film horor yang rilis pada tahun 2012, menjadi tahun tersibuk untuk film horor Indonesia setelah kebangkitannya di tahun 2001.

Sejarah Film Horor yang Meneror

Tak butuh waktu lama untuk film horor ikut meramaikan perkembangan perfilman dunia. Prancis merupakan negara pertama yang mengenalkan kengerian dalam layar ini kepada dunia pada tahun 1896. Sutradara Georges Méliès merilis yang dipercaya sebagai film horor perdana berjudul Le Manoir du diablealias (Istana Berhantu). Film bisu ini berkisah soal pertemuan dengan iblis dan makhluk jejadian lainnya yang dikemas secara komikal. Pada masanya, film ini dianggap ambisius karena berdurasi lebih dari tiga menit.

Timeline Film Horor

Film Phantom of the Opera

1896: Film Horor Pertama di dunia dibuat oleh sineas asal Prancis Georges Méliès dengan judul  Le Manoir du diable (Istana Berhantu). 

1910: Sebuah rumah produksi Amerika Edison Studio memproduksi versi pertama film  Frankenstein. Film tersebut sempat hilang.

1920an: Rumah produksi raksaksa Universal Studio merajai film horor Hollywood dengan segerombol monster-monster mengerikan. Dimuali dengan film bisu klasik dengan aktor Lon Chaye yang dikenal dengan “The Man of a Thousand Faces” berkat riasannya yang luar biasa – The Hunchback of Notre Dame (1923) dan The Phantom of the Opera (1925).

1934Doea Siloeman Oeler Poeti en Item yang disutadarai Tan Tjoei Hock, rilis. Dan menjadi film horor pertama Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia-Belanda. Film ini bercerita soal hasrat dua siluman ular untuk hidup layaknya manusia biasa.

1947: Stephen King lahir, tepatnya pada 21 September 1947 di Maine. Raja novel horor dan thiler ini menciptakan sejumlah karakter fenomenal dalam film horor, tentu yang paling terkenal adalah badut dalam film IT (1990).

1971: Titik balik kelahiran film horor di Indonesia setelah kemerdekaan. Ditandai dengan film debut si ratu horor Suzana, Beranak Dalam Kubur.

1990: Film horor romantis Ghost risil, salah satu adegan ikonik dalam film ini adalah adegan ketika kedua pemeran utama Patrick Swayzee dan Demi Moore membuat tembikar. Adegan ini semakin romantis, berkat iringan soundtrack Unchained Melody. Berkat film ini nama Demi More melejit.

1993: Kolektor film bernama Felix Alois Dettlaff Sr menemukan sebuah salinan film Frankenstein produksi Edison Studio yang sempat hilang dan merilisnya.

2001: Film Jeilangkung risil. Film ini disebut sebagai titik balik film horor Indonesia di abad 21. Terbukti setelah film ini mendapatkan sambutan yang luar biasa, setelahnya mulai banyak rumah produksi yang memproduksi film horor.

Fakta Film Horor
Urban Legend dan Film Horor

Cerita dalam film horor sebenarnya hal yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat disekitarnya terutama di Indonesia. Beberapa kisah yang hidup dan dipercayai ada unsur mistis di dalamnya seperti menjadi hal yang menarik para rumah produksi untuk diangkat menjadi sebuah film. Pada awal kemunculan film horor sekitar tahun 1970-1990an cerita identik dengan legenda pedesaan. Pun begitu sampai sekarang, film horor yang diproduksi tidak terlepas dari kisah-kisah yang berkembang di masyarakat. Malah sekarang telah merambah kepada legenda perkotaan. Sebut saja beberapa judul film yang berasal dari legenda masyarakat perkotaan, ada Terowongan Casablanca, Rumah Kentang, Hantu Jeruk Purut. Urban legend dan film horor seperti telah menjadi formula tersendiri yang tak bisa dilepaskan.

Film Suzana

Hantu Identik Perempuan

Jika kamu suka menonton film horor, pernahkah kamu menyadari kebanyakan tokoh hantu adalah perempuan?

Sebut saja Valak, Anabell jika versi internasional. Dalam negeri kita punya sunder bolong, kuntil anak, suster ngesot, dan sederet hantu perempuan lainnya. Semua hantu perempuan tersebut juga digambarkan dengan bagaimana mereka tak dapat perlakuan yang pantas semasa hidupnya. Mungkin konstruksi penggambaran perempuan pada kesehariannya di masyarakat dan industri hiburan seperti rambut panjang, tatapan yang tajam, dan cara tertawa yang membuat hantu lebih identik dengan perempuan.

Lalu, Mengapa Kita Masih Mau Menonton Film Horor?

Telah banyak penelitian dari berbagai bidang ilmu yang tertarik membedah mengapa walau kita merasa ketakutan saat menonton film horor kita masih mau menontonnya.

Salah satunya menurut Freud, seorang psikoanalisis.Ia menjelaskan bahwa hasrat terpendam manusia di bawah alam sadar. Menurut Freud horor berasal dari sesuatu yang ganjil, ditandai dengan kemunculan imaji dan pikiran dari Id primitif manusia yang sebelumnya tertekan oleh Ego. Walhasil, horor mampu mendapat tempat khusus dalam diri manusia. Menurut Aristoteles juga, manusia memang senang dengan kisah-kisah seram penuh kekejaman karena bisa membawa katarsis atau kelegaan emosional dalam dirinya.

Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Ahli sosiologi Margee Kerr dan ahli ilmu saraf kognitif Greg Siegle juga menjelaskan mengapa kita masih mau menonton film horor.

Mereka melakukan eksperimen di sebuah rumah hantu Pennsylvania yang dikhususkan untuk orang dewasa karena aksinya yang sangat menyeramkan. Hasilnya ternyata para peserta mengalami perubahan suasana hati. Perasaan lelah dan khawatir mereka pun berkurang. Dalam lingkungan dengan aktivitas yang menakutkan, ada saraf tertentu di otak yang “dimatikan” dan berkaitan dengan perasaan yang lebih baik.

Pengalaman yang menakutkan sama halnya dengan berlari maraton atau menaiki tebing yang tinggi. Rasanya seperti kita menemukan tantangan dan merasa senang telah selesai melaluinya. Hal itu lah yang ingin kita dapatkan ketika menonton film horor, mencoba mendapatkan tantangan dengan menantang nyali kita sepanjang durasi film sambil berteriak teriak ketakutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *