Lady Gaga, Di Balik Akting Apiknya dalam Film A Star is Born

Nama Lady Gaga belakangan kembali menjadi bahan perbincangan ketika dia berperan apik dalam film debutnya A Star Is Born. Tapi di balik kesuksesan yang berjalan bersama Lady Gaga di dunia entertainment, ternyata dia mempunyai masalah dengan kesehatan mentalnya.

Di sebuah ajang penghargaan Lady Gaga tak seperti biasanya, menyiapkan pidato hingga membutuhkan waktu 3 jam lebih lamanya. Bukan, ini bukan penghargaan pertama Gaga, tapi ini menjadi penghargaan yang amat sentimentil baginya.

Gaga bahkan takut pidatonya akan menjadi sesuatu yang panjang dan membosankan, ia pun berujar bahwa siapa pun dalam ruangan boleh pergi jika mereka merasa bosan dengan apa yang ia akan sampaikan. Namun tak ada satu pun yang beranjak dari kursinya di Teater Bram Goldsmith, bintang A Star is Born itu selama 23 menit menyampaikan pidato dengan penuh semangat.

Pada ajang penghargaan SAG-AFTRA Foundation’s yang diselengarakan ketiga kalinya ini, Gaga mencoba menyampaikan kesadaran tentang kesehatan mental, dan stigma yang melingkupinya selama ini. Dalam penghargaan tersebut juga turut hadir sejumlah ikon lain seperti Spike Lee, Jeffrey Katzenberg dan Harrison Ford.

Dalam pidatonya, Gaga berkata bahwa generasi muda kehilangan kepercayaan bahwa suara mereka layak didengarkan atas apa yang sedang mereka rasakan, bahwa ada sakit yang tak berkesudahan yang menghinggapi mereka. Gaga mengatakan “epidemi” bunuh diri yang terjadi belakangan ini terjadi karena stigma dan keengganan berbicara secara terbuka tentang kesehatan mental terutama kaum muda.

“Hari ini, satu dari empat orang mengalami krisis kesehatan mental. Saya adalah salah satu dari orang-orang itu. Tolong lihat sekeliling ruangan, sebentar saja. Setiap tahun, kita kehilangan lebih dari 800.000 ibu, ayah, putra, putri, guru, saudara perempuan, saudara laki-laki, bibi, paman, pelatih, veteran, dokter, perawat, dan seniman karena bunuh diri”, katanya dengan penuh semangat menyampaikan isi pidato.

Dia bercerita juga bagaimana ia menderita karena kesehatan mental dari beban pekerjaanya sebagai artis Hollywood. “Ini kemudian berubah menjadi nyeri kronis fisik, Fibromyalgia (gangguan yang mempengaruhi otak dalam memproses sinyal rasa sakit), serangan panik, respon trauma akut dan melemahkan spiral mental yang termasuk ide bunuh diri.”

Kemudian Gaga dengan semangat mengajak semua orang yang hadir di ruangan tersebut untuk sama-sama merangkul mereka yang memiliki krisis kesehatan mental, untuk sama-sama membuka percakapan tentang kesehatan mental ke arah yang baru, untuk membuat stigma baru tentang kesehatan mental, dan membantu program lain dengan penggalangan dana.

Berbicara Tentang Kesehatan Mental dan Dunia Hiburan

Lady Gaga bukanlah satu-satunya pelaku dunia hiburan yang menderita gangguan kesehatan mental. Tercatat banyak sekali mereka yang melakoni dunia hiburan dan mengidap ganguan kesehatan mental, sebut saja Demi Lovato yang harus beberapa kali bolak-balik masuk rehabilitasi, Jonghyun salah satu member dari boy band SHINee yang berakhir dengan bunuh diri, dan nama-nama lainnya yang terus berperang melawan gangguan kesehatan mental mereka.

Dunia hiburan seperi belum menjadi tempat yang ramah untuk mereka yang bekerja di dalamnya, dengan segala tekanan dari luar dan dalam membuat mereka menjadi sangat rentan mengidap kesehatan mental.

Kita S. Curry seorang yang telah lama mempelajari kesehatan mental dan CEO Didi Hirsch sebuah layanan kesehatan mental, mengatakan bagaimana perjuangan yang dihadapi oleh para aktor dan musisi dengan depresi dan penyalahgunaan zat adiktif, baik karena jadwal mereka yang teramat padat dan ketenaran yang mereka peroleh.

“Ketika kita terkenal kita menjadi sullit membedakan apakah orang di lingkungan kita benar-benar menyukai kita atau hanya menyukai ketenaran kita.” katanya “Jika Anda sudah depresi dan sudah merasa gagal, Anda tidak akan merasa hidup”. Media yang mengepung para aktor dan musisi menurut Curry dapat membuat mereka untuk memilih jalan bunuh diri ketika menghadapi masalah kesehatan mental. Media yang mengepung para aktor dan musisi juga sering mengambil kehidupan mereka dengan konsekuensi negatif yang harus para aktor dan musisi terima.

Bagaimana Stigma Tentang Kesehatan Mental dalam Film

Industri perfilman khususnya Hollywood mempunyai penggambaran yang buruk tentang kesehatan mental. Streotip penggambaran mereka yang mengidap gangguan mental telah menjadi sejarah yang panjang di Hollywood.

Lihat saja sejumlah film klasik Hollywood terutama bergenre horor menggambarkan kesadisan dan berdarah-darah, patologi tentang kenyataan sering ditinggalkan demi sebuah adegan-adegan melodramatis, atau juga bagaimana mereka yang gangguan mental diejek dan dipojokan. Semua yang tentu ujungnya adalah pada pendapatan komersial dari film.

Penggambaran orang-orang gangguan mental sebagai maniak dan pembunuh itu sangat mengerikan, dan mitos tersebut terus melekat dan seperti ikut berkembang dalam industri perfilman. Gambaran pengobatan juga terkadang digambarkan dengan cara yang brutal dan memiliki dampak pada jangka panjang. Film klasik One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975) di tahun 2011, The Telegraph melaporkan bahwa film ini bertanggung jawab untuk mengubah citra ECT yang digambar mengerikan.

Tetapi belakangan juga sudah banyak pula rumah produksi besar yang mengajak psikolog dan psikiater sebagai konsultan dalam film yang mereka garap. Dengan begitu, film dapat digunakan sebagai media memperkenalkan dan membangun kesadaran dari kesehatan mental. Sehingga memutus stigma negatif tentang gangguan mental.

Mendukung dan merubah stigma tentang kesehatan mental sejatinya bukan lah hanya menjadi tanggungjawab para pesohor, karena siapa saja dapat mengalami gangguan kesehatan mental. Belajar dari semakin maraknya kasus bunuh diri sebagai dampak dari penyakit ini, jangan enggan untuk menyapa, mengingatkan bahwa mereka yang memiliki penyakit kesehatan mental tidak sendiri. Ada orang-orang yang peduli dengan mereka, dan bisa membantu mereka untuk pulih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *