Lagu Silih Berganti, Tetap Ada yang Tak Akan Terganti

Musisi silih datang berganti, begitupun dengan genre musik yang makin beragam. Tapi kita lebih cenderung mendengarkan lagu-lagu jadul.

Kita memang masih mendengarkan lagu-lagu baru, Tapi tetap saja lagu-lagu lama tetap menjadi pilihan favorit kita dalam mendengarkan lagu, atau bersenandung ketika berkaraoke bersama teman. Entah itu lagu semasa kita kecil, remaja, ataupun di masa-masa yang menemani perjalanan kita menuju kedewasaan.

Lantas, apa yang mendasari kita lebih nyaman dan suka mendengarkan lagu-lagu tersebut?

Sebuah artikel dari New York Times The Songs That Bind. Ditulis oleh Seth Stephens-Davidowitz, mengumpulkan data tentang perbedaan minat musik antar generasi. Seth menganalisis tren Spotify dan menemukan bahwa popularitas sebuah lagu ada kaitannya dengan kelompok usia pendengar saat mereka pertama kali mendengarkannya.

Menurutnya juga, laki-laki mulai mengembangkan selera musiknya sejak usia 13-16 tahun, sedangkan perempuan pada usia 11-14 tahun. Itu artinya, para orang dewasa tidak terlalu sering mendengarkan musik baru. Selera kita tetap sama mesti kita mencoba-coba punya selera lain saat kita usia 20-an.

Masa remaja kita “sensitif sosial” atau sangat bergantung dengan orang lain. Kita pun dalam masa di mana betapa mudah menerima hal baru. Oleh itu, apa yang kita alami di masa dulu lebih melekat dalam benak kita. Meski ada yang disebut dengan “reverse education”  dimana kita belajar hal-hal baru dari generasi yang lebih muda namun tampaknya dalam hal selera musik ini begitu sulit disatukan.

Lagu Jadul Mengingatkanmu Banyak Hal

Mendengarkan lagu jadul seperti mengajak kita menaiki mesin waktu untuk mundur beberapa tahun kebelekang, mengingat saat-saat pertama kita mendengarkan lagu tersebut. Sedang apa kita saat mendengarkan lagu tersebut dan ada kenangan apa kita dengan lagu ini, mungkin kita akan dibuat tersenyum-senyum ketika mengingat memori yang dibawa lagu itu.

Kita juga mungkin sadar, lirik dari lagu era dulu lebih memiliki arti yang dalam, dan penuh makna di tiap baitnya. Dahulu mungkin ketika kita mendengarkan lagu melalui kaset, CD, aplikasi Winamp, ataupun radio, kita tak berhenti hanya sebatas menghapal lirik, tapi juga kita coba untuk mencari tahu siapa musisinya dan bagaimana chord gitar lagu tersebut. Tak jarang kita pun membeli buku kunci gitar yang kita beli di depan lapak penjual koran sepulang sekolah. Lalu kita disibukan dengan mengulik bagaimana kunci kunci gitar tiap bait lagu.

Lalu kita tersadar, lagu tersebut telah berumur satu dekade lebih, mungkin sudah duduk di bangku SMA jika ia menjadi seorang anak.

Lagu Zaman Sekarang Membosankan

Baru-baru ini ada sebuah penelitian yang dipimpin oleh lembaga kecerdasan buatan Joan Serra dari Dewan Riset Spanyol  mempelajari lagu pop yang diciptakan di tahun 1955 hingga periode 2010. Ribuan koleksi lagu diambil dari arsip besar bernama Millon Song Databset. Serra dan timnya membedah musik yang beredar pada 50 tahun belakangan menggunakan algoritma rumit.

Mereka menemukan bahwa lagu pop secara intrinsik menjadi lebih nyaring dan hambar dari segi kunci nada, melodi dan jenis suara yang digunakan. Tim penelitian mereka menemukan bahwa ada penurunan dari keragaman kunci nada dan melodi. Dari segi warna musik era sekarang juga semakin miskin. Meski sudah dimainakan dengan volume yang sama pada piano, dan giata akan menghasilkan warna suara yang berbeda.

Musik modren juga terdengar semakin nyaring. Serra menjelaskan, besaran volume yang dimasukkan ke sebuah lagu sewaktu direkam membuat kenyaringan intrinsik. Setelan volume ini dapat membuat suatu lagu terdengar lebih keras dari lagu lainnya bahkan pada pengaturan volume yang sama pada peranti pengatur suara (amplifier). 

Hal ini menurut Serra sangat berpengaruh kepada kualitas sebuah lagu. Berbeda dengan lagu jadul yang dicoba rekam ulang dengan kenyaringan volume yang ditingkatkan, progresi kunci yang disederhanakan. Hasilnya justru menjadikan lagu jadul lebih terdengar lebih baru dan modis.

Mendengarkan lagu dan mengikuti selera musik berbeda dengan fashion. Kita merasa lebih terikat dengan sebuah lagu atau musik. Lagu seperti tak kenal kata ketinggalan zaman, malah lebih tambah menyenangkan dari zaman ke zaman. Mungkin hal itu yang membuat kita susah lupa dan sulit pindah dengan lagu zaman dahulu.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *