Learn To Say No- John C. Maxwell

Learn to say ‘no’ to the good so you can say ‘yes’ to the best. John C. Maxwell

Kutipan di atas disampaikan oleh John C. Maxwell melalui akun Facebooknya beberapa waktu lalu. Maxwell sendiri merupakan seorang pembicara ulung tentang kepemimpinan dari Amerika.

John C. Maxwell dan Kehidupannya

John C. Maxwell, adalah seorang pria kelahiran tahun 1946 seorang pembicara, penulis terkenal, dan guru kepemimpinan dan pastor. Ia menyelesaikan pendidikannya di Ohio Christian University setelah sebelumnya mengikuti ayahnya dalam pelayanan.

Sejak tahun 1970-an Maxwell telah aktif memimpin beberapa gereja dan telah lebih 14 tahun menjadi pendeta senior di Gereja Skyline. Sebagai seorang pendeta senior, ia memimpin pastoral yang berfokus kepada bidang kepemimpinan. Setiap tahunnya Maxwell aktif berbicara kepada 500 bagian perusahaan, pemimpin pemerintah, dan organisasi yang beragam. Maxwell juga menjadi salah satu dari dua puluh lima penulis ternama di 10th Anniversary Hall of Fame Amazon.

John C. Maxwell dan Keinginan Membuat Perubahan

John C. Maxwell selalu ingin membuat perubahan dalam kehidupan orang-orang. Semangatnya dalam hidup tumbuh dan memperlengkapi orang-orang untuk melakukan hal besar dan menjalani hidup yang signifikan. Dia mempunyai semangat yang luar biasa untuk menyebarkan ilmu yang ia punya, ia telah mengabadikan dirinya untuk menulis dan mengajar.

Dia dan saudaranya, Larrey Maxwell mendirikan EQUIP yang punya fokus untuk mengembangkan kepribadian, pelatihan kepemimpinan, dan mentoring. Lewat EQUIP, Maxwell percaya bahwa setiap orang dilahirkan dengan potensi untuk mempengaruhi orang lain.

Lewat bukunya juga, Maxwell telah mengembangkan 5 level kepemimpinan yang memvisualisasikan pada level mana seorang pemimpin bekerja dan bagaimana dia dapat lebih berpengaruh, dihormati dan sukses. Tingkat kepemimpinan dapat bervariasi per orang dan bahkan ada hubungannya dengan organisasi tempat seseorang bekerja dan mengembangkan dirinya.

Learn To Say No

Learn to say ‘no’ to the good so you can say ‘yes’ to the best. John C. Maxwell

Kadang kita dihadapkan dengan situasi di mana kita sangat amat ingin mengatakan “tidak,tidak,tidak” dan kemudian dengan cepat mengatakan “ya”.

Mengapa begitu sulit untuk mengatakan “tidak? itu hanya satu kata, kan?

Kita suka sekali merasa terperangkap dari dorongan berlebihan untuk bersikap setuju. Mengapa sangat penting bagi kita untuk menyenangkan hati semua orang, padahal di titik lain kita merasa hal tersebut mengesalkan dan menekan kita.

Mungkin karena ketakut terbesar kita dengan penolakan. Kita takut ketika kita melakukan ini, seseorang akan kecewa, marah, melukai perasaan mereka atau pula begitu kasar. Jadi sebenarnya kita sendiri tahu mengapa teramat sulit untuk kita melakukan penolakan.

Ini akan menjadi beban yang di bawa setiap hari, dengan dorongan mengatakan ya yang besar ini membuat kita kehilangan nilai pada diri kita di mata beberapa orang yang hanya akan mengambil keuntungan dari kita.

Mengatakan tidak berarti kasar, egois, tidak ramah. Ini tentu saja pemahaman yang salah yang membuat mengatakan tidak semakin menjadi sulit. Mempelajari cara dari mana keyakinan ini tumbuh mungkin bisa menjadi cara bagus untuk melepaskan keyakinan tersebut.

Saat kita kecil, beberapa dari kita mungkin diajarkan betapa kasarnya ketika kita mengatakan tidak adalaha hal yang kasar dan tidak sopan. Jika kita mengatakan tidak kepada ibu, ayah, guru, kakek, nenek, ataupun orang yang lebih tua dari kita, kita akan diperingati bahwa itu bukan hal yang baik.

Tapi sekarang kita sudah dewasa. Sudah mengetahui nilai salah dan benar. Oleh karena itu tidak ada kata terlarang, melainkan yang kita putuskan sendiri, berdasarkan kebijakan kita sendiri.

Waktu kita terbatas, dan kita harus mengurus itu dengan baik. Kita harus dapat berhenti menghabiskan energi kita untuk sesuatu yang bukan menjadi prioritas.

Akan tiba bagi kita untuk berani mengatakan tidak sesekali, dan itu menjadi hal yang memang harus dilakukan walau pun akan menyisakan hal yang aneh pada dada kita, dan meninggalkan sedikit rasa bersalah. Takut mengecewakan orang lain, menjadi kendala besar kita untuk mengatakan tidak. Padahal jika memang kita tak ingin melakukannya, mengatakan tidak adalah hal yang sah-sah saja.

Kita perlu belajar menilai situasi dengan pandangan apakah dampak dari setiap keputusan kita akan menuju keuntungan terbesar yang dapat kita ambil. Kita bisa memutuskan bahwa permintaan seseorang akan menghabiskan banyak waktu baik kita, ijinkan diri kita mengevaluasi dan berbicara dengan jujur tentang permintaan mereka.

Mengatakan tidak, bukan lah hal yang buruk, ini adalah cara kamu memimpin dirimu sendiri dalam membuat keputusan yang sepadan dengan mu. Sebagai seorang pembicara kepemimpinan John C. Maxwell ingin membuat pondasi awal adalah tentang keberanian kita mengambil sikap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *