Manga, Industri Budaya yang Fenomenal

Manga memainkan peran besar dalam industri percetakan dan menjadikan Jepang pengekspor budaya terbesar.

Manga adalah buku komik asli Jepang yang mempunyai relung pengikut besar di seluruh dunia. Alur cerita dari buku-buku komik dengan berbagai genre seperti aksi petualangan, roman, komedi, fiksi ilmiah, hingga fantasi.

Manga dalam Digit

1,4 juta copy, seri ke 90 One Piece terjual di pekan kedua perilisannya. Menjadikan One Piece sebagai manga terpopuler.

2,5 juta copy, Dragon Ball FighterZ telah terjual, membuatnya menjadi salah satu judul terlaris di 2018.

120 juta copy, Manga Slam Dunk terjual pada tahun 2012 di Jepang. Menjadikan karya Takehiko Inoue sebagai manga olahraga paling populer.

$ 3,8 miliar, Kerugian yang dialami para pemegang hak cipta untuk manga yang dibajak pada tahun 2017.

42 volume, Komik Dragon Ball, dengan cerita Son Goku, yang melatih seni bela diri dan menjelajahi planet ini untuk mencari tujuh bola yang dikenal sebagai Bola Naga.

40 tahun, seri komik Kochikame salah satu manga yang paling dicintai di Jepang. Sebuah seri manga komedi terlama, September 1976 hingga September 2016. Membuatnya dianugrahi Guinness World Record for Most Volume.

Sejarah Manga

Manga pertama Jepang diyakini muncul sekitar abad ke-12 dalam serangkaian gamabar katak dan kelinci yang berjudul Choju-giga yang diproduksi oleh beberapa seniman. Istilah manga Jepang mengacu kepada kartun atau komik dengan sketsa yang aneh. Manga modern lahir dari perluasan kreativitas para artis selama pendudukan AS atas Jepang antara 1945 hingga 1952.

Majalah manga pertama Eshinbun Nipponchi, diterbitkan pada tahun 1974 oleh Kanagaki Robun dan Kawanabe Kyosai. Karya manga pertama sangat identik dengan gambar kaligrafi khas Cina, pada periode sebelum perang manga identik dengan kebutuhan sosial dan ekonomi pra-perang Jepang dan nasionalisme Jepang. Setelah perang usai, manga mendapat banyak pengarus dari film, televisi, kartun, dan komik. Ini menjadi perkembangan penting bagi manga, kala Jepang diduduki AS, mereka membawa kartun mereka sendiri seperti Mickey Mouse, Betty Boop, dan Bambi ke negara itu. Sehingga meninggalkan kesan yang besar pada manga-ka (sebutan pembuatan manga).

Setelah masa kedudukan AS di Jepang, antara 1950 hingga 1969 pembaca manga semakin banyak lalu manga dibagi dua genre pemasaran yaitu shōnen, ditujukan untuk laki-laki, dan shōjo yang didedikasikan untuk anak perempuan. Di antara genre manga lainnya dikenal juga Yōji untuk anak berusia 14 tahun, Jidō untuk anak yang baru belajar membaca.

Lalu muncul manga dengan konten hardcore dan makin menonjol yaitu hentai, di ambil dari  “hentai seiyoku”, yang berarti “hasrat seksual yang jahat”. Meskipun awalnya genre ini tidak dianggap dalam genre manga, istilah ini diadopsi dalam bahasa Inggris yang digunakan untuk menjelaskan genre anime dan manga pornografi. Beberapa juga menganggapnya sebagai seni erotis Jepang.

Timeline Manga

Abad 12– Manga lahir, dalam seri buku bergambar.

1798– Istilah manga secara umum digunakan, untuk menggambarkan buku bergambar Shiji no Yukikai (Four Seasons) oleh Santō Kyōden.

1814– Manga Shiji No Yukikai kembali muncul namun dengan Hyakujo Aikawa Mina.

1874– Majalah manga pertama terbit, Eshinbun Nipponchi oleh Kanagaki Robun dan Kawanabe Kyosai.

1952– Astro Boy, serial manga yang ditulis dan diilustrasikan oleh Osamu Tezuka terbit.

1969– Doraemon pertamakali diterbitkan, karakter robot kucing dengan kantong ajaibnya menjadikannya terkenal.

1980an– Manga memasuki pasar global.

1983– Istilah Otaku diperkenalkan oleh penulis Akio Nakamori untuk mendeskripsikan “orang-orang kutu buku  yang terobsesi pada anime.

1995– Manga menyumbang pendapat 40% dari semua materi cetak untuk Jepang.

1996– Seri Pokemon diluncurkan, salah satu ekspor manga yang dianggap paling menguntungkan.

1997– One Piece, sebuah karya dari Eiichiro Oda pertama kali terbit.

Fakta Manga

Karakter Penjahat Dragon Ball Menjadi Karakter Paling Dicintai

Karakter pahlawan dan penjahat dalam manga menjadi genre yang banyak melahirkan mangaka besar. Dari Rurouni Kenshin hingga Naruto, kemampuan menghadirkan interaksi yang menarik antara penjahat dan si pahlawan menjadi kunci tersendiri bagi manga jenis ini untuk dapat memikat pembaca.

Dalam kasus ini, manga shonen, perpaduan apik si jahat melawan si baik dapat menghadirkan ledakan. Dragon Ball sering dianggap sebagai yang terbesar, bagian terbaik ketika karakter utama Goku dipasangkan dengan para musuhnya yang punya karakter bersebrangan darinya.

Selama bertahun-tahun terbit, Dragon Ball telah memperkenalkan berbagai karakter jahat, Freiza, Piccolo, Cell, Buu, Broly.

Akira Toriyama memang tak pernah kehabisan bahan bakar untuk menciptakan karkter jahat yang membuat para penggemarnya tak habis pikir. Seperti saat ia coba menggambarkan Freiza, salah satu ikon Dragon Ball seorang egotist yang gila kekuasaan, kita pikirkan ia karkter yang kuat namun justru ia berubah menjadi kecil. Karakter lainnya seperti Broly yang pertama kali muncul 20 tahun lalu begitu dicintai oleh fandom Dragon Ball yang menuntutnya hadir dalam mainan, dan gim video.

Dunia begitu mencintai karkter antagonis yang ada di Dragon Ball, dengan alasan yang sebenarnya sederhana, sesederhana Toriyama meejawatahkannya. Seperti sindiran populer dari Dragon Ball “Dia sangat keren, tapi dia sangat bodoh!” Terkadang seperti itulah yang dibutuhkan karakter antagonis, bodoh dan besar. Karakter yang justru menjadi jembatan antar generasi, yang justru membuat Dragon Ball menemukan pencintanya dan penuh pujian.

Manga, Industri dan Ekspor Budaya

Ditemukan dalam bentuk buku-buku komik, majalah bulanan, atau surat kabar, manga memiliki sesuatu yang bisa merangkul semua orang. Orang-orang dari segala usia, lapisan kelas sosial menghabiskan dan menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli manga, melengkapi koleksi mereka untuk dapat menikmati cerita secara utuh. Seri panjang yang bisa sampai berjilid-jilid, dimaksudkan untuk menjaga perhatian pembaca. Hal itu telah berhasil mereka lakukan selama beberapa dekade.

Orang-orang di Jepang dan dibanyak negara lain, tampak terpukau dengan tampilan manga yang berbeda, tampilan emosi yang dilebih-lebihkan, perpaduan pena dan tinta, dengan gaya khas Jepang. Jika komik Amerika akan dipenuhi balon kata dan narasi luas, manga Jepang akan menghabiskan berlembar-lembar hanya untuk satu kata.

Manga telah mendarah daging bagi anak-anak di Jepang, tak hanya sebagai bahan hiburan namun juga membentuk karakter mereka, melalui cerita yang cerdik, sering membawa pesan spritual dan filosofis. Sebagai pintu gerbang kebudayaan Jepang, ia menarik basis global dan memicu minat dalam budaya Jepang. Menghantarkan Jepang sebagai mengekspor budaya terbesar kedua. Visualnya memungkinkan pembaca untuk mengamati bahasa tubuh serta tingkah laku, mengarah pada citra lengkap tak hanya interaksi budaya tapi juga negara itu sendiri.

Menjadi satu alasan yang menarik anak-anak yang besar dengan manga Pokemon, Dragon Ball, YuGi Oh di tangannya untuk mendatangi kursus bahasa Jepang dan memperdalam tentang Jepang. Amerika Utara menjadi salah satu pasar asing terbesar bagi manga senilai $ 300 juta pada awal 2011. Pasar yang besar juga ada di banyak negara di Eropa dan Asia.

Saking populerannya manga, pembajakan menjadi hal yang membayang bayanginya saat ini. Pembajakan pada komik manga Jepang menjadi hal yang paling serius. Bagaimana tidak, penjualan yang terus menurun menjadi hal yang paling terlihat. Pembajakan merugikan para pemegang hak cipta dengan angka yang tidak sedikit 3,8 miliar dolar di tahun 2017. Unsur yang membuat bagaimana pembajakan terhadap manga Jepang menjadi marak terjadi adalah ketidak mampuan para basis penggemar untuk mengakses konten yang sama dengan mereka di Jepang, ini menimbulkan rasa frustasi bagi mereka. Beberapa seri juga ada yang tak dirilis secara internasional karena dianggap tidak pantas untuk pasar tertentu, tidak berhasil di pasar Jepang atau hanya diterbitkan secara lokal oleh penerbit independen.

Internet hadir menawarkan solusi luar biasa kepada penggemar. Manga asli dipindai, diterjemahkan, diedit, lalu diunggah di internet untuk kemudian dapat diunduh secara gratis. Sayangnya, hal yang didorong oleh rasa antusias ini justru mencederai industri manga dan mengancam keberadaanya. Pemerintah Jepang pun mengambil langkah untuk memutus masalah pembajakana ini. Badan Urusan Kebudayaan Jepang sedang mencari cara untuk mencegah orang mengunduh manga yang telah dipindai secara ilegal rencana ini mulai berlaku pada tahun 2019. Para pelaku pembajakan akan dihukum dua tahun penjara atau denda sebesar $ 18.000.

Pada akhirnya apa yang terjadi pada manga telah menjadi bagian dari lingkup budaya yang populer yang semakin meluas dan menegosiasi identitas budaya di luar Jepang. Tidak bisa diragukan lagi sampai batas tertentu mengubah, dan menciptakan ruang budaya tersendiri yang melekat di hati penggemarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *