Memilih Menjadi Misterius, Tersohor Lewat Karya

Karyanya diketahui banyak orang, tapi siapa dia sebenarnya? Tidak ada yang benar-benar tahu.

Baru-baru ini berita tentang lukisan Banksy yang tiba-tiba menghancurkan diri menghebohkan dunia. Banksy si seniman misterius bukan kali pertama memang melakukan aksi yang menghebohkan seperti itu. Setiap karya grafiti yang ia buat pasti membawa pesan satier dan menohok pesan politik. Banyak aksi gila lainnya dari si seniman misterius tersebut yang membuat beberapa orang menjadi penasaran sebenarnya siapa orang dibalik Banksy, bagaimana penampilannya, dan kehidupannya.

Didorong rasa penasaran, sampai banyak beberapa orang yang coba mengorek-ngorek dengan membuat laporan Graffiti Artist Banksy Arrested At Art Exhibit In Palestine; Identity Revealed. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa Banksy adalah seorang pria berumur 38 tahun bernama Paul Honer yang diculik polisi Palestina tanpa ada jaminan. Belakangan diketahui berita tersebut hanya tipu-tipu belaka.

Dia yang Karyanya Terkenal, Tidak Dengan Identitasnya

Tak hanya Banksy, ada beberapa seniman lainnya yang karyanya sudah terkenal namun identitasnya masih menjadi misteri. Di Indonesia pun ada seorang seniman yang bahkan karyanya sudah diakui dunia namun identitasnya masih menjadi tanda tanya.

Sebut saja seniman mural tersebut Darbotz yang dikenal luas dengan semprotan mural “Cumi Kong”. Karyanya telah tersohor dipelbagai negara-negara bahkan sudah bekolaborasi dengan DC Shoes. Pria berusia 36 tahun ini enggan menyebutkan nama aslinya, dan tidak ingin dikenal secara terbuka. Seperti yang diungkapkannya dalam sesi wawancara dengan Kompas beberapa waktu silam. Darbotz menjelaskan mengapa ia suka menutupi wajahnya karena ingin karyanya yang lebih dikenal- nanti kalo udah pada kenal, oh dia, dah gitu aja. Jelasnya.

Jika kamu coba Googling nama Darbotz kamu tak akan menemukan satupun foto yang menunjukan wajahnya.

Ciri Khas Monster Ball Hitam Putih

Darbotz memiliki ciri khas tersendiri untuk karyanya yang membuatnya orisinal. Karkter monster cumi atau yang dikenal dengan monster ball yang ia sebut sebagai karakter alter egonya ini mempunyai arti filosofis yang dalam. Menurut Darbotz monster ball adalah karakter yang memiliki sifat keras dan tangguh seperti Jakarta. Kota yang banyak memberikan inspirasi untuk karya-karyanya. Selama 15 tahun berkarier sebagai seniman mural, Dabotz terbiasa menggunakan warna hitam, putih, dan abu-abu. Uniknya lagi, ia pun tak pernah menyisipkan tanda pengenal di setiap muralnya. Berbeda dengan seniman-seniman lainnya yang akan membubuhkan tanda tangan atau tanda pengenal lainnya setiap telah selesai menggambar. Membuat ia semakin menjadi sosok yang misterius.

Tidak Hanya Terkenal di Indonesia

Tak hanya terkenal di dalam negeri saja. Karya-karya Darbotz sudah melanglangbuana dipelbagai negara mengisi sudut-sudut gedung kota, galeri hingga sudut jalan. Pada 2014 lalu, karyanya sudah mejeng di kota Melbroune, Australia. Saat itu ia berkolaborasi dengan desainer Monica Lim dengan tema Fem Agenda. Di depan gedung kawasan Swanston Street, Darbotz menggambar karya andalannya monster cumi. Karya-karyanya yang lain pun sudah banyak dipamerkan dipelbagai pameran internasional. Di antaranya Hongkong, Singapura, Malaysia, bahkan sampai Prancis, Salah satu karyanya bahkan menjadi koleksi Miyuma Gallery, Singapura.

Kolaborasi Dengan DC Shoes

Selain karyanya yang telah wara wiri dipelbagai festival internasional, pencapaian lainnya yang tak kalah luar biasa adalah ia bekolaborasi dengan brand sepatu internasional. Kolaborasi DC dan Darbotz ditujukan untuk desain sepatu terbaru DC dengan ciri khas muralnya. Pada 13 Juli 2017 lalu, secara resmi DC Shoes Indonesia memperkenalkan produknya yang bertema street art Indonesia DC Shoes X Darbotz yang semula hanya akan hadir di Indonesia tapi pada akhirnya sepatu tersebut dijual secara global.

Kolaborasinya dengan DC Shoes ini mengangkat konsep “Keep Em Dirty”, ia memberikan pesan bahwa jangan takut kotor jika tinggal di kota besar dengan segala problematikanya seperti Jakarta. Menurut Darbotz juga, sebersih apapun kotanya, tetap ada sisi kotornya. Di Indonesia, sepatu ini hanya diproduksi 3.000 pasang saja.

Beberapa pelaku seni seperti Darbotz lebih memilih menyembunyikan identitas mereka kepada publik. Karya mereka diketahui banyak orang, menginspirasi, namun identitas mereka sangat sedikit diketahui secara luas. Entah alasan ingin dikenal lewat karyanya saja atau perkara keamanan privasi yang mereka inginkan.  Kepopuleran bukanlah yang mereka cari dari seni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *