Milenial yang Kepincut Freelancing

Generasi milenial cenderung memilih menjadi freelance ketimbang tradisi bekerja di perkantoran. Lalu, apa faktor yang mendorong hal tersebut?

Jumlah milenial yang memilih menjadi freelancer dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Menurut laporan Freelance Unions dan Upwork, di Amerika Serikat saja  ada 47% milenial memilih menjadi freelancer. Di Indonesia sendiri, bekerja sebagai freelancer sedang menunjukan tren yang terus meningkat. Tercatat 10% milenial memilih menjadi freelancer.

Salah satu ciri generasi milenial adalah penguasaan mereka terhadap teknologi komunikasi. Ciri inilah yang pada perkembangannya memicu untuk berpikir menjadi freelancer. Alasannya? Kemudahan mendapatkan apa yang kita butuhkan melalui internet dan arus informasi berjalan secepat kilat hingga serasa meniadakan jarak. Dari sinilah lapangan pekerjaan baru bermunculan dengan berbagai keunikan, bahkan kita bisa bekerja tanpa perlu bertatap muka. Cukup dengan klik dan tik maka pekerjaan dikirim sesuai dengan kesepakatan dan keinginan. Tidak hanya satu dua pekerjaan yang bisa dikerjakan, puluhan pekerjaan bisa dilakukan bahkan tanpa perlu terkait langsung dengan latar belakang pendidikan bidang yang ditawarkan.

Situs Social Media Week, Brenna Clarine menulis bahwa ada beberapa alasan mengapa milenial kepincut menjadi freelancer. Ketimbang fokus pada karier, milenial lebih melihat bahwa menikmati kebebasan hidup adalah hal yang “seksi”. Sehingga mereka melihat kehidupan perkantoran adalah kehidupan yang membosankan. Milenial adalah sosok yang menyukai jam kerja dan tempat kantor yang lebih fleksibel. Kebebasan adalah apa yang menjadi life goals bagi milenial dan itu hanya dapat mereka dapat dengan menjadi freelancer.

Di sisi lain juga, ada sebuah data yang mencatat bahwa 72% calon pekerja milenial tak ingin sekadar bekerja sebagai karyawan namun juga mereka ingin memberikan dampak signifikan bagi sekitar yang dapat memompa level kebahagiaannya. Sebuah laporan dari Gallup yang berjudul “How Millennials Want to Work and Live”  menemukan bahwa sebagian besar milenial mencari, atau paling tidak tertarik dengan peluang pekerjaan baru.

 

Banyak Alasan Menarik Menjadi Freelancer

Alasan lain yang juga menjadi bahan pertimbangan adalah mobilitas. Di kota-kota besar, terutama Ibu kota Jakarta, kondisi lalu lintas menjadi momok tersendiri yang tak bisa dielakkan ketika jam-jam sibuk di hari kerja. Hal ini membuat keunggulan menjadi freelancer- Nggak perlu macet-macetan, cukup bekerja di rumah saja.

Selain itu, para milenial yang menjadi freelance dapat memaksimalkan potensi yang ada pada diri mereka, tiak bergantung pada kualifikasi pendidikan saja. Keuntungan dengan adanya freelancer juga dirasakan oleh perusahaan yang merasa mereka dapat memotong waktu perekrutan dibandingkan ketika menambah karyawan. Daripada harus mencari calon pekerja lewat tumpukan resume, perusahaan sudah mulai beralih dengan mengunjungi situs pekerja freelance. Perusahaan pun dimudahkan mencari pekerja yang sifatnya spesifik. Menurut sebuah data dari Upwork, sembilan dari sepuluh manajer merasa puas dengan pekerjaan freelance.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Jora, penyedia jasa freelance di Indonesia juga mencatat bahwa bidang pekerjaan desain, guru bahasa inggris, admin, web developer adalah jenis pekerjaan yang paling banyak menarik pekerja freelancer, dengan Jakarta sebagai kota yang paling banyak menawarkan pekerjaan freelance.

Kemajuan dan perkembangan pada teknologi membuat ada perubahan dengan budaya bekerja. Menjadi karyawan penuh waktu dengan jam kerja delapan sampai sembilan jam bukan lagi pilihan tunggal. Sekarang telah banyak alternatif-alternatif yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan penghasilan. Pekerjaan freelancer yang seiring dengan kemudahan teknologi yang terus berkembang makin menjadi pilihan bagi kamu para milenial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *