Music Player dan Cara-cara Kita Mendengarkan Musik

Ketika cara mendengarkan musik berkembang, musik menjadi teman tetap dalam kehidupan kita sehari-hari.

Music player telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita dalam mendengarkan musik, membawa kegembiraan, tawa, dan juga dorongan untuk menari atau sekadar menggoyangkan kepala. Berbagai macam musik yang kita akses dan dengarkan hari ini tidak mungkin mudah diakses karena perkembangan teknologi dari cara kita dalam mendengarkan musik yang tak mudah terpuaskan.

Music Player dalam Digit

40 menit, musik yang bisa disimpan dalam rekaman 8 track.

$ 3.000, harga Boombox seri JVC RC-M90 yang menjadi sampul album debut grup rapper  LL Cool J “Radio” pada situs Ebay.

1,000 Gramafon terjual pada tahun 1893.

120 ribu, unduhan Winamp tiap hari saat pada awal perilisannya, yaitu Winamp 1.0.

Sejarah Music Player

Sudah sejak lama kita mampu mengunduh musik yang ingin dengarkan melalui internet. Padahal sejatinya untuk sampai pada saat seperti ini, cara kita mendengarkan musik dan perangkatnya terus berkembang seiring waktu.

Adalah Thomas Edison yang pertama menciptakan alat untuk kita bisa mengenal suara yang direkam lalu bisa diperdengarkan ulang. Alat tersebut bernama Fonograf, penemuan besar Edison yang memberinya ketenaran internasional hingga diundang ke Gedung Putih oleh Presiden Rutherfor B. Hayes untuk mendemonstrasikan penemuannya itu. Lalu ditahun berikutnya Edison mendirikan perushaaan Edison  Speaking Phonography  untuk memproduksi secara masal fonograf.

Lalu alat pemutar musik terus dikembangkan hingga saat ini kita terbiasa mendengarkan musik melalui telepon genggam kita. Kita bisa mengunduhnya sebanyak yang kita suka, atau bahkan menginstal pemutar musik sehingga tak perlu repot-repot mengunduh sama sekali.

Timeline Music Player

1877, Thomas Edison menemukan Fonograf yang merupakan perangkat pertama untuk merekam dan memutar ulang suara.

1880-an, Emile Berliner menciptakan gramafon, gramafon memiliki jarum yang membaca alur-alur dalam rekaman dengan getaran dan merubahnya menjadi suara. Rekaman pertama terbuat dari kaca yang seiring waktu rekaman digunakan menggunakan plastik vinyl.

1906, Marconi menemukan antena radio directional dan siaran pertama pada malam natal.

1920-an,  Siaran radio semakin populer dan dijadikan sebagai siaran publik untuk mengirim informasi.

1940-an, Long Players record (LPs) menjadi suatu yang populer hingga akhir tahun 1980-an.

1963, Rekaman 8 track diciptakan oleh William Powell Lear.

1970-an, Kaset pita hadir dan menandakan akhir dari rekaman 8 track dan mempunyai kualitas suara yang lebih baik. Pada tahun ini juga Boombox dikembangkan oleh perusahaan Philips. Inovasi ini memungkinkan siaran radio untuk direkam ke kaset tanpa kabel atau mikrofon.

1979, Walkman diluncurkan oleh Sony.

1982, CD komersial pertama kali diproduksi oleh perusahaan asal Jerman, Philips lalu dikembangkan bersama dengan Sony.

1987, Digital Audio Tape diperkenalkan, tetapi karena biaya yang tinggi ini hanya digunakan untuk industri rekaman profesional.

1989, Mp3 lahir dan membuat perubahan besar cara mendengarkan musik.

2001, Apple meluncurkan i-Pod, pemutar musik portable pertama yang punya bentuk lebih ramping dari pemutar musik sebelum-sebelumnya.

2003, Apple mengeluarkan i-Tunes Music Store.

2007, Soundcloud, jejaring sosial untuk para musisi rilis.

2008, Layanan musik streaming Spotify yang memungkinkan untuk membuat playlist dan membagikannya diluncurkan.

2011, Philips meluncurkan stasiun docking ponsel android pertama.

Fakta Music Player

Musik dari Vinyl Terdengar Lebih Bagus

Beberapa tahun sekarang, vinyl dan turntable kembali menjadi tren dikalangan penikmat musik. Bahkan beberapa musisi era sekarang merilis album mereka dalam bentuk vinyl. Banyak yang mengatakan bahwa suara yang dihasilkan vinyl lebih baik.

Bagaimana bisa dikatakan demikian?
Vinyl adalah teknologi kuno, rapuh, mahal, dan mereka mengambil banyak ruang penyimpanan di rumah. Pun begitu dengan alat pemutar mereka, menghabiskan banyak uang dan ruang.

Kaum milenial yang besar dengan musik digital adalah yang sangat ingin mengkoleksi vinyl di saat generasi baby boomer mungkin membuang koleksi vinyl mereka. Para penikmat vinyl juga mengatakan bahwa tak ada yang lebih baik dari mendengarkan musik yang diputar di atas meja ketimbang dari file atau CD.

Memainkan rekaman menggunakan stylus yang melacak alur yang diukir menjadi potongan plastik berputar pada 33,3 putaran per menit membuat suara yang dihasilakan dari vinyl begitu baik bahkan digital terbaik sekalipun mungkin tak dapat menandinginya. Ada keajaiban dalam suara analog.

Winamp, yang Sempat Pergi Lalu Ingin Kembali

Winamp, siapa yang tak kenal dengan aplikasi pemutar musik yang begitu ngetren dan pasti terpasang di setiap komputer di awal-awal 2000-an. Winamp adalah aplikasi komputer yang melegenda. Kekuasaannya memutar file Mp3 tak terbantahkan lagi.

Winamp adalah ambisi besar dua pemuda  di tahun 1997, Justin Frankel dan Dmitry Boldyrey. Winamp sendiri konon diambil dari “Windows”, sistem operasi yang menaunginya dan Advanced Multimedia Products (AMP), kode untuk sumber pemutar musik. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Winamp merupakan singkatan dari “Windows Amplifier.”

Winamp telah mengalami cukup banyak pasang surut dalam perjalanannya. Semenjak  AOL membeli Nullsoft seharga $80-$100 juta pada tahun 1999 start up pertama yang menangani Winamp. Namun tak ada hal signifikan setelah AOL mengambil alih Winamp.

Rob Lord, manajer pertama Winamp mengatakan bahwa tidak ada alasan Winamp tidak bisa bersaing dengan i-Tunes, jika tidak ada salah urus dari AOL yang dimulai dari akuisis yang mereka lakukan. Rolling Stone pada 2004  menjuluki pendiri Nullsoft sebagai “kutu paling berbahaya di dunia” tapi AOL tidak cocok untuk orang aneh dan berbahaya.

Di tahun yang sama Frankel mengundurkan diri, ia meninggalkan pesan beberapa baris di situs webnya  yang kemudian dihapus “Bagi saya, pengkodean adalah bentuk ekspresi diri. Perusahaan mengontrol cara-cara ekspresi diri yang paling efektif yang saya miliki. Ini tidak dapat diterima. Saya sebagai individu, oleh karena itu saya harus pergi.”

Lalu sayangnya pada 22 Desember 2013 Winamp harus merelakan keperkasaanya sebagai pemutar musik yang revolusioner, AOL merilis versi terakhir dari Winamp, yaitu Winamp 5.666 sebagai versi terakhirnya.

Di bawah Radionomy, Winamp Mencoba Kembali.

Radionomy membeli Winamp setahun setelah AOL merilis versi terakhir dan mematikan Winamp, aplikasi pemutar musik itu coba dihidup kembali. Versi teranyar Winamp 5.8 dirilis Radionomy baru-baru ini setelah aplikasi baru tersebut bocor di internet. Winamp 5.8 versi terbaru mendukung Windows 8.1 dan Windows 10. Versi 5.8 belum mempunyai perubahan yang drastis namun Radionomy mengatakan bahwa tim mereka tengah bekerja untuk melahirkan masa depan baru untuk Winamp.

Radionomy berencana untuk menjadikan Winamp sebagai media player all-in-one untuk desktop dan juga perangkat seluluer pada 2019 mendatang. Hal yang diperlukan oleh sebuah perangkat masa kini, sebuah integrasi. Radionomy akan membawa semua bentuk audio – podcast, streaming, playlist musik pribadi, radio internet di bawah satu atap yang bernama Winamp. Dengan segala kenangan yang sempat dihadirkan oleh Winamp terdahulu, akankah kita menyambut dengan tangan terbuka Winamp baru dengan segala inovasinya? Nantikan di tahun 2019!

Bagaimanapun kita mendengarkan musik, satu hal yang tak bisa kita lepaskan adalah bahwa kita memerlukan itu. Musik dan cara-cara kita mendengarkannya kadang juga tak lebih seperti sahabat seperjalanan. Music Player akan terus tumbuh, berevolusi, dan begitu juga dengan kita tumbuh, bergerak, dan berevolusi. Mestinya tak perlu ada yang dikhawatirkan selama kita masih punya cara-cara menikmati musik di hari-hari kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *