Natal, Berbagai Kisah yang Penuh Kasih

Bertukar hadiah, menghias pohon natal, menghadiri misa natal di gereja, berbagi makanan dengan keluarga atau teman, dan tentu saja menunggu Santa Clause datang. 25 Desember adalah hari besar untuk umat nasrani di seluruh dunia, sakral dan punya fenomena budaya.

Para pemuluk agam nasrani tak akan melewati perayaan besar ini, Natal. Natal sebagai perayaan kelahiran dari Yesus, selama dua milenium lebih seluruh umat nasrani berbahagia merayakan hari tersebut dengan penuh suka cita, dan tradisi yang khidmat. Bermacam kebiasaan yang cuma dilakukan ketika natal tiba membuat natal menjadi sebuah acara yang penuh rindu. Di seluruh dunia, natal dirayakan dalam banyak tradisi yang kaya dan dihargai. Asal tradisi sangat bervariasi, muncul dari budaya dan keyakinan

Natal dalam Digit

$ 2,6 Juta, Total biaya untuk pohon natal yang terbuat dari emas di Jerman dan dijuluki sebagai pohon natal termahal di Eropa tahun ini.

33 meter, Tinggi pohon natal dan diklaim sebagai pohon natal asli tertinggi, terletak di Trikala, kota di Yunani bagian tengah.

50 juta copies, Jumlah penjualan lagu natal terlaris yang pernah ada White Christmas dari Bing Crosby.

Sejarah Tradisi Perayaan Natal

Natal seperti yang kita ketahui, menjadi hari raya yang diperingati di seluruh dunia dan menjadi libur nasional. Natal modern yang dirayakan hari ini berasal dari tradisi-tradisi dari ratusan tahun yang punya sebutan dan tradisi berbeda di tiap negara. Ada banyak negara dengan tradisi natal yang unik.

Di kebanyakan negara Skandinavia mengawali perayaan natal dengan perayaan St. Lucy, lalu dilanjutkan dengan tradisi “Little Yule” di mana anak perempuan paling tua di setiap rumah membangunkan anggota keluarga dengan memakai gaun putih panjang dengan selempang merah dan menggunakan mahkota yang terbuat dari ranting sambil membawa sembilan lilin menyala untuk hari itu ia disebut “Lussi”.

Dekorasi pohon natal selalu menjadi bagian tradisi solstice musim dingin Jerman. Setelah 1750, pohon Natal mulai muncul di bagian lain Jerman. Pada 1820-an, imigran Jerman pertama menghias pohon Natal di Pennsylvania. Setelah Pangeran Albert Jerman menikahi Ratu Victoria, ia memperkenalkan tradisi pohon Natal ke Inggris. Pada tahun 1848, surat kabar Amerika pertama membawa gambar pohon Natal dan kebiasaan menyebar ke hampir setiap rumah hanya dalam beberapa tahun.

Keluarga di Ukraina memulai perayaan natal dengan menyiapkan dua belas jenis hidangan, dan acara makan baru akan dimulai setelah anak termuda dalam keluarga melihat bintang melalui jendela.  Lain lagi dengan tradisi natal di Rusia, sebagian masyarakat di sana percaya dengan kallikantzaroi, goblin yang akan menyebabkan kerusakan natal, mereka akan bertukar kado pada tanggal 1 Januari dalam perayaan St. Basil.

Timeline Perayaan Natal

Abad ke 4, Seorang usukup dari Yunani St. Nicholas membagikan hadiah di hari kelahiran Yesus kepada orang-orang miskin.

Abad ke 15, Perayaan selama sebulan penuh untuk mengenang jasa St. Nicholas

1809, Washington Irving, memodernisasi Saint Nick dengan dongeng-dongengnya

1816, Pohon natal pertama di Amerika didirikan.

1879, Pusat pembelanjaan mulai menambahkan display Santa Claus sebagai bentuk menyambut natal

1843, Kartu ucapan natal pertamakali dicetak di London.

1930-an, Anak-anak mulai memasukan biskuit dan susu ke kaus kaki untuk Santa Claus.

1950, NORAD melacak pola penerbangan Santa

1983,  Menonton film komedi untuk merayakan natal sangat digandrungi segala usia

1994, E-card ucapan natal pertama kali dikirim

2000-an, Anak-anak mulai meminta mainan sebagai kado natal mereka.

2007, Untuk pertama kalinya lebih banyak rumah memasang pohon natal buatan daripada dari pohon asli.

Fakta Perayaan Natal

Jingle Bells Awalnya Sebuah Lagu Perayaan ThanksGiving

Tak hanya identik dengan pohon penuh hiasan dan juga kegiatan bertukar kado, dalam perayaan natal dan memeriahkannya lagu menjadi hal yang juga tak ketinggalan. Salah satu lagi yang paling populer dan begitu akrab ditelinga tentu saja adalah lagu Jingle Bells.

Namun ternyata pada awal lagu itu diperdengarkan, lagu tersebut bukanlah lagu untuk perayaan natal melainkan untuk thanks giving. Lagu awalnya berjudul “One Horse Open Sleigh”  yang diciptakan oleh James Lord Pierpont yang ditampilkan dalam konser Thanksgiving di gerja.

 

Barulah pada tahun 1857, lagu tersebut dirilis ulang dengan judul yang kita kenal saat ini dan menjadi lagu natal terpopuler dan menjadi lagu pertama yang diperdengarkan di luar angkasa.

Sisi Psikologi Perayaan Natal

Layaknya persiapan perayaan hari besar umat beragama lainnya, biasanya persiapan natal pun sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Para keluarga mulai disibukan dengan mendekorasi rumah, membeli pernak-pernik natal yang beraneka ragam, memikirkan hadiah untuk bertukar kado, memilih masakan yang sesuai untuk disantap bersama keluarga hingga menyiapkan  ritual tradisi yang biasa dilakukan bersama keluarga. Semua perlu disiapkan demi memeriahkan natal dengan baik,

Psikologis sosial telah menemukan bahwa alasan di balik penciptaan dan kelanjutan tradisi adalah kombinasi dari pembelajaran sosial dan penghindaran hukuman. Kita sebagai individu cenderung melihat orang untuk mengukur cara yang tepat untuk bertindak dalam situasi. Kita belajar dari orang lain untuk menghindari bertindak dengan cara yang bertentangan dengan citra diri yang dibangun. Jadi kita belajar dari tradisi.

Natal seperti mempengaruhi pikiran dalam banyak hal, mampu merangsang rasa bahagia, nostalgia, gembira, stress- pada waktu yang bersamaan. Waktu yang harusnya menyenangkan kadang menjadi menegangkan. Satu studi menarik berjudul- What Makes for a Merry Christmas? pada tahun 2002 yang ditulis oleh Tim Kasser dan Kennon Sheldon di Journal of Happiness Studies. Singkatnya, penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan keluarga dan spiritual pada natal membuat orang lebih puas, sementara aspek materialistik natal (membelanjakan uang dan menerima hadiah) justru merusak/ menurunkan kesejahteraan.

Pada 1930-an, Presiden Amerika Calvin Coolidge membuat pernyataan berikut pada perayaan tahunan natal: “Natal bukan waktu atau musim,” katanya, “tetapi keadaan pikiran.”

Di zaman modern unsur-unsur materialistik natal telah mendominasi banyak orang. Natal sangat besar secara komersial: sekitar seperenam dari semua penjualan ritel terkait untuk perayaan. Kasser dan Sheldon mensurvei 117 orang dewasa, berusia 18-80 tahun tepat setelah natal 2001. Sekitar tiga perempat dari subjek melaporkan bahwa mereka memiliki libur natal yang memuaskan. Hanya 10% yang memiliki libur natal sangat buruk. Hampir 44% walaupun merasa puas dengan perayaan natal mereka, tapi mereka merasa penuh tekanan.

Secara umum, laki-laki jauh lebih bahagia dan kurang stres daripada perempuan selama natal, dan orang tua merasa mereka lebih bahagia daripada anak muda.

Memberi hadiah adalah bagian yang sangat penting dalam perayaan natal tetapi para eknom menemukan bahwa hal tersebut menjadi hal yang sangat membingungkan, karena tampaknya hal tersebut sangat tidak rasioanal. Para eknom beranggapan bahwa memberikan uang tunai akan lebih baik daripada hadiah yang punya kemungkinan besar tidak mereka sukai.

Namun, hadiah benar-benar menunjukan bentuk perhatian kita kepada penerima, dan hampir semua orang lebih menyukai hadiah yang membutuhkan waktu dan upaya untuk mendapatkannya daripada hadiah yang sangat mahal.

Natal dapat menjadi membuat stres dan ketegangan secara psikologis dalam keluarga baik. Reuni keluarga bisa memicu berbagai macam emosi mendalam seperti kecemburuan, persaingan antar saudara. Alih-alih merasa santai dan bergembira, kita mungkin merasa stres dan kelelahan.

Kamu dapat mengatasi rasa stres yang berkaitan dengan keluarga dengan temukan cara untuk mempersingkat atau menghilangkan pengalaman keluarga yang dapat merusak suasana hati, lebih habiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan. Mampu mengenali pola tertentu dalam sebuah perilaku dapat menghindari kita dari kegilaan

Kita hidup di masa yang sudah berbeda. Meski begitu, ada satu hal yang tetap sama: tradisi membahagiakan kita menyambut dan merayakan natal, berbagi kisah dan kasih antusias dan kegembiraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *