Photography in Adryantoro’s Life

Passion pada fotografi telah membawa Adryan Agung Dwiyantoro dapat berkarir sebagai fotografer profesional. Berkali-kali ia mencoba menjauh dari dunia fotografi, berkali-kali pula ia kembali pada dunia yang memenuhi kepuasannya.

Mengapa memilih terjun ke dunia fotografi?

Saya suka mendokumentasikan sesuatu yang bisa dikenang terus. Tapi yang paling penting, senang rasanya melihat orang lain ikut senang dengan karya saya. Bahkan, ketika mereka mengganti profile picture social media dengan foto yang saya potret, saya sudah senang. Hahaha. Pada dasarnya kepuasan mereka adalah kebahagiaan saya.

Boleh diceritakan awal mula berkarir di fotografi?

Dari awal sudah tertarik untuk kursus fotografi di Darwis Triadi. Tapi orang tua bilang, ngapain jadi tukang foto. Dapat saran buat jadi pilot, tapi saya takut ketinggian hahaha. Saya sempat mengubur keinginan untuk jadi fotografer. Kuliah pun saya masuk jurusan teknologi informasi, ketemu kalkulus dan matematika. Saya berpikir untuk bertahan, tapi hanya sampai semester dua. Itu pun karena ketemu sama mata kuliah kalkulus 2. Akhirnya cerita ke orang tua untuk pindah jurusan.

Saya kembali pada keinginan mempelajari fotografi. Berpikir bagaimana caranya agar saya bisa dibelikan kamera sama orang tua. Akhirnya saya masuk jurusan ilmu komunikasi yang ada mata kuliah fotografinya.

Jadi bagaimana akhirnya bisa dapat klien?

Mulanya, saya memotret untuk wedding sepupu, saya dibayar oleh orang tuanya. Lalu, sempat memotret wedding kakak saya juga. Dari sana, saya jadi punya portfolioyang saya gunakan untuk melamar pekerjaan di bridal. Saya juga sempat bekerja untuk salah satu media. Portfolioterus bertambah, saya juga dapat koneksi. Banyak tawaran untuk memotret yang bentrok dengan jam kerja, akhirnya memberanikan diri untuk membangun usaha fotografi sendiri. Sekarang saya juga merambah ke videografi. Foto atau video, saya senang mengerjakannya.

Genre foto apa saja yang disukai dan ditekuni?

Saya mengerjakan banyak genre fotografi. Wedding, portrait, fashion,dan corporate. Saya banyak memotret untuk wedding dan mengerjakan proyek foto untuk corporate. Untuk menyeimbangkannya dengan idealisme, saya juga menyukai fashiondan portrait photography.

Bagaimana menyiasati keinginan klien dengan idealisme kamu sebagai fotografer?

Saat bertemu klien, dia akan memberitahukan keinginannya. Dari situ, saya kasih saran juga dari sisi idealis. Ada yang mau, ada juga yang tidak. Balik lagi dengan alasan saya memilih fotografi, kepuasan mereka adalah kesenangan saya. Saya senang memenuhi harapan mereka.

Bagaimana komunikasi kamu ke model/klien pre-wedding ketika memotret?

Sangat berbeda antara industri fashiondan prewedding. Di fashion, saya dimanjakan dengan model yang dapat berpose. Saya tidak banyak mengarahkan. Kalau di pre-wedding, mereka banyak meminta saya untuk mengarahkan gaya. Biasanya, saya akan meminta tiga goals yang diharapkan dari foto. Misalnya, apakah clean, romantic, candid, atau intimate? Saya akan mencari referensi dan mengarahkan gaya sesuai goals yang mereka harapkan.

Mulai dari kebutuhan personal seperti wedding/pre-wedding dan portrait, hingga fashion dan corporate, Adryan memberikan yang terbaik untuk memenuhi harapan klien. Cari tahu lebih banyak tentang portfolionya di Moselo.

*Artikel ini dimuat di journal.moselo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *