Turn Back Turtleneck

Turtleneck, tak sekadar memberi kesan hangat tapi ia mengalami banyak pergeseran makna hingga menjadi pakaian mode seperti saat ini.

Pada mulanya, turtleneck adalah sebuah pakaian olahraga dan diperuntukan untuk kaum pria. Dikenal dengan polo neck yang juga dikenakan oleh tentara dan nelayan. Lalu turtleneck pada awal abad 20 menjadi simbol untuk penampilan feminis kaum wanita. Jika kita lihat ke belakang ada sejarah luar biasa di balik turtleneck hingga ia sekarang menjadi pakaian yang wajib ada di lemari sebagai salah satu pilihan mode.

Turtle neck dalam Digit

85 cen, Harga turtleneck pada tahun 1905 yang diperuntukkan untuk perempuan.

3,6 juta, Harga turtleneck rancangan Issey Miyake yang kembali diproduksi setelah fakum akibat kematian Steve Jobs .

100, Jumlah turtleneck Steve Jobs yang dirancang oleh Miyake.

Sejarah Turtleneck

Sebelum turtleneck menjadi pakaian yang memberikan kesan hangat dan sangat nyaman dikenakan sebagai pakaian transisi dari musim hangat ke dingin. Turtleneck pertama kali muncul di pertengahan tahun 1800-an para atlet polo Inggris mengenakan turtleneck sebagai seragam mereka dan dikenal dengan sebutan polo neck. Sejak awal, turtleneck dipandang sebagai pakaian utilitarian, dikenakan oleh kebanyakan laki-laki. Lalu pakaian ini diadopsi oleh militer. Di awal tahun 1900-an menjadi tampilan modis bagi kaum perempuan menjadi ilustrasi personifikasi dari tampilan ideal feminim.

Turtleneck pada 1950-an menjadi penanda pembrontakan kaum muda dengan ikonnya adalah seorang penyanyi asal Perancis, Juliette Gréco. Ketika wajahnya difoto bermunculan dengan turtleneck hitam, Greco menjadikan turtleneck sebagai pakaian wajibnya yang mengemukakan perlawanan. Gréco dan turtlenecknya mewakili alternatif yang apik dari budaya borjuis: antihero mode. Turtleneck semakin mendapatkan popularitasnya setelah beberapa seniman menggunakannya, seperti Audrey Hepburn, Marilyn Monroe, Lauren Bacall, Eartha Kitt dan Jayne Mansfield.

Kemampuan turtleneck memberikan kesan pemakainya mencolok dan dramatis lalu diadopsi oleh orang-orang dalam gerakan politik kiri pada akhir 60-an dan 70-an. Pendukung partai Black Panther sering menggunakan turtleneck hitam berbalut jaket kulit. Pada tahun 1968 ketika beberapa protes kaum muda di Paris pecah dan menyebabkan kota ini lumpuh, salah satu yang tak bisa di lepaskan dari para demonstran adalah turtleneck. Di tahun 70-an Dorothy Pitman Hughes dan Gloria Steinem, mengenakan turtleneck  dengan celana jins tampil dalam wawancara TV dengan David Frost. Mengubah daya tarik turtleneck menjadi pernyataan feminis.

Setelah masa jayanya pada para revolusioner dan seniman inovatif, memasuki tahun 90-an turtleneck tak melambangkan lebih dari sekadar T-shirt. Kemudian pada 2000-an turtleneck digunakan untuk metafora seksualitas dalam film Something Gotta Give, dengan pemeran utama film ini, Diane Keaton.

Beberapa dekade setelahnya, turtleneck berubah menjadi mode fesyen yang hadir di runways, karpet merah, pada perempuan maupun pria.

Timeline Turtleneck

1800-an– Menjadi pakaian para atlet polo dan militer. Pada masa ini, turtleneck dikenal dengan polo neck.

1990-an– Turtleneck dibuat untuk perempuan dan menjadi tampilan modis para perempuan.

1950– Menjadi ikon untuk kaum Bohemian setelah Juliette Gréco sering kedapatan menggunakannya.

1957– Lewat film Funny Face, Audrey Hepburn mempopulerkan turtleneck kepada anak muda.

1960-an– Pendukung partai Black Panther mengenakan turtleneck sebagai simbol mereka.

1968– Dalam sebuah demostrasi kaum muda, turtleneck menjadi salah satu yang tak bisa dilepaskan dari para pendemo.

1970-an– Menjadi pernyataan feminis setelah Dorothy Pitman Hughes dan Gloria Steinem tampil dalam wawancara TV David Forst.

1990-an– Turtleneck hitam identik dengan Steve Jobs.

2003– Turtleneck menjadi metafora seksual dalam film komedi romantis Something Gotta Give.

2011– Saat Steve Jobs meninggal dunia, penjualan turtleneck berlipat ganda dalam semalam.

2015– Runways New York Fashion Week menampilkan beberapa mode turtleneck.

Fakta Turtleneck

Steve Jobs dan Turtlenecknya

Steve Jobs semasa hidupnya dikenal karena gaya khasnya. Selama menjadi CEO Apple ia sama sekali tak pernah terlihat tanpa turtleneck hitam, celana jins biru, dan sepatu kets New Balance.

Banyak yang tak berhenti bertanya-tanya mengapa Steve Jobs memakai pakaian biasa seperti itu ketika memperkenalkan teknologi revolusioner kepada dunia. tetapi ternyata ada cerita yang menarik mengapa Steve Jobs tidak pernah terlihat tanpa turtleneck dan jins biru.

Itu semua berawal pada tahun 1980-an ketika Apple masih perusahaan startup muda dan masih dinamis, Steve Jobs mengunjungi Jepang untuk bertemu ketua Sony Akio Morita untuk tujuan bisnis. Ia melakukan beberapa kunjungan acak ke departemen yang ada di Sony untuk merasakan budaya kerja dan lingkungan seperti apa. Ia pun terkejut menyaksikan semua orang mengenakan seragam.

Ketika Steve bertanya tentang hal itu kepada Morita, ia diberitahu bahwa setelah Perang Dunia II, sebagian besar karyawan Sony tidak memiliki pakaian yang layak oleh karena itu Sony harusmemberikan seragam untuk mereka. Seiring waktu seragam pun digunakan untuk mengikat mereka dengan perusahaan.

Saat itulah Steve Jobs memutuskan untuk menerapkan hal serupa kepada Apple untuk memelihara karyawan dan membentuk ikatan. Ia lantas menghubungi desainer Miyake yang juga mendesain seragam Sony, namun Steve Jobs justru dicemooh dan membatalkan niat itu.

Ide itu terus melekat pada Steve Jobs, ia pun menginginkan seragam untuk dirinya sendiri yang bisa menyampaikan kesan kesederhanaanya. Dia pun kembali meminta Miyake untuk membuatkan seragam yang bisa digunakan sehari-hari, hasilnya ratusan turtleneck hitam. Beberapa bulan sebelum kematiannya, Steve Jobs memperlihatkan isi lemarinya yang dipenuhi turtleneck kepada Walter Isaacson dan berkata “Itulah yang saya kenakan. Saya memiliki cukup banyak untuk sisa hidup saya.”

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Kita Mengenakan Turtleneck Hitam

Ketika kita berpikir tentang turtleneck, beberapa muncul dibenak; filsuf abad 20, penyair, CEO teknologi, Prancis, dan seniman. Yang lain mungkin melihat seorang intelektual cerdas dan pendiam yang membuka buku di tengah hari.

Tidak pasti mengapa, tetapi pada suatu titik dalam abad yang lalu turtleneck telah menjadi seragam untuk tipe intelektual dari beragam jenis pengetahuan. Mungkin juga karena kombinasi dari semua nuansa budaya yang dihadirkan oleh turtleneck yang membuatnya tampak keren.

Bagaimanapun, ada sesuatu yang sangat menarik tentang turtleneck terutama yang berwarna hitam. Kesederhanaanya yang mencolok membuat pernyataan tentang pemakainnya “Seorang individu, yang tak harus menunjukan bagaimana seharusnya berpakaian”. Bahasa simbolis ini telah menjadi bahasa mode global. Dengan ketenaran turtleneck yang melampaui dekade, generasi, dan gender.

Turtleneck berhasil menggabungkan bermacam-macam manusia dengan latar belakangnya berkat pesan dan kesan yang menampilkan bahwa pemakainya berbeda, dan ketegasan bahwa sang pemakai tak boleh diganggu jika tak mau merasakan akibatnya.

Kesederhanaan dan citra elegan turtleneck hitam selalu sukses membuat seseorang terlihat chic. Itulah mengapa, terlepas dari tren modenya yang terus bergerak, turtleneck hitam tak pernah dianggap aneh oleh penggiat fesyen.

Turtleneck adalah jenis pakaian yang membuatmu bisa mengamati orang, bukannya diamati. Itulah mengapa Diane Keaton mendeklarasikan turtleneck sebagai fesyen “underrated” karena dianggap bukan gaya fesyen kelas atas. Diane merasa, turtleneck membuat pemakainnya terlihat sopan. Singkatnya, turtleneck tidak mengundang nafsu.

Inilah yang akan terjadi ketika kamu mengenakan turtleneck hitam; kamu akan merasa terhubung dengan masa lalu. Kamu terhubung dengan silsilah panjang pemakai turtleneck hitam. Dengan deretan nama-nama besar yang punya pencapaian dan sejarah yang panjang semasa hidupnya. Sebut saja Audrey Hepburn, Joan Dion, Gloria Staimen, Angela Davis hingga Hilari Clinton.

Turtleneck adalah pakaian yang sangat pribadi; ia memelukmu membentuk dimensi yang tepat bagi tubuhmu, seperti bangunan gedung dengan fondasi yang kuat dan dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *